Mencoba pengering sepatu elektrik

Pagi masbro..

Cuaca akhir-akhir ini, yang memang betul masuk pada musim penghujan, cukup menyegarkan suasana. Riding jadi gak kepanasan lagi deh, lha wong pag berangkat nguli aja sudah diguyur hujan ๐Ÿ˜† Memang betul kata pepatah, naik motor itu nikmat. Kalau hujan gak kepanasan, kalau panas gak kehujanan :mrgreen:

Kondisi menembus hujan dengan berkendara motor, pasti dong lengkap peralatan tempur. Kalau senjata saia sih standaran aja. Jas hujan 2 piece alias setelan celana+jaket, masih yang lama berngaran Takachi PVC, helm half face KYT dan sepatu karet Allbike. Jas hujan dan sepatu karet ini, kalau lagi nggak hujan, tetap duduk manis di dalam box belakang si bleki, persiapan kalau tiba-tiba kehujanan di jalan.

Basah, adalah hal lumrah setelah diguyur hujan selama perjalanan. Kalau jas hujan, biasanya saia gantung secara horizontal di kawat jemuran, diangin-anginkan supaya kering tanpa kena panas. Soalnya, dari cerita para mastah, jas hujan kalo sering kena panas/dijemur, bahannya cepat rusak. Masuk akal kan, apalagi secara bahan nih dari karet/PVC. Lha kalau sepatu karet, ini yang masih jadi kendala. Saat basah pas pulang kerja, nggak sempat dong ketemu matahari buat dijemur, sementara esok paginya kudu dibawa lagi sebagai bekal di jalan. Sepatu Allbike ini, buat yang belum pernah pakai, kalau basah, aromanya lumayan menyengat. Bisa musmet, hehehehehe Continue reading

Ibu penjual jas hujan keliling

Medio Desember 2017. Sabtu lalu, sepulang lembur, cuaca sudah rada gelap. Mendung menggantung sepanjang perjalanan pulang ke Singosari. Eh, ini perut tak bisa diajak kompromi. Daripada gemetar handling motor, berbeloklah saia ke pinggir jalan, sedikit memutar, ke warten mi ayam di pinggir jalan. Sambil ngobrol dengan pak-e pemilik (langganan sejak masih kuliah ๐Ÿ˜† ), tak terasa, habislah semangkuk mi ayam beserta segelas es teh.

Beberapa saat kemudian, ada seorang ibu, belum begitu tua, mungkin sepantar usia saia, menggendong anak menggunakan selendang di punggungnya, berusia kisaran 4 tahunan yang tertidur pulas, masuk ke warten. Beliau menawarkan dagangan, berupa jas hujan. Ada beberapa buah saia lirik di dalam kantong kresek besar yang ditenteng. Mulai dari ponco/batman, hingga jas hujan kresek/plastik.

Rasa iba menghentak sanubari saia. Rasa kenyang setalah menyantap mi ayam, langsung sirna, berganti rasa iba. Maksud hati ingin membantu si ibu tersebut, akhirnya saia urungkan. Lho? Iya…takutnya, didalam warung yang lagi rame pembeli, takut ada yang menilai lain, juga takut salah paham dari sang ibu akan maksud saia. Akhirnya, saia menggeleng saat ditawari jas hujan.

Sang ibu tadi pun berlalu, tanpa ada seorangpun yang membeli dagangannya, termasuk saia. Setelah membayar makanan, saia nyalakan motor, lalu melaju pelan, di belakang si ibu yang sedang berjalan di tepi jalan. Saia lalu berhenti beberapa meter didepannya. Saia sapa, langsung si ibu tadi berhenti sambil kembali menawarkan dagangannya. Rupanya, beliau kurang ngeh kalo saia tadi sudah bertemu di warung mi. Mungkin, karena pake helm plus masker.

Saia tanya, “berapa bu, yang kresek?” Dijawab : 7 ribu, mas” sambil mengambilkan beberapa buah. Saia ambil satu buah, warna hijau. Sambil mengangsurkan selembar kertas rupiah, saia bilang ke ibu penjual, “Ngapunten bu, ndak usah disusuki. Didamel jajan-e putrane mawon” (Maaf, permisi bu, tidak usah diberi kembalian, untuk jajan anaknya saja). Spekulasi saat itu, takut si ibu tidak terima, menolak atau salah paham. Ternyata nggak, beliau menunduk sambil mengucapkan terima kasih. Saia segera berlalu, menahan rasa ingin pulang, bertemu dengan istri dan 2 buah hati saia yang menunggu di rumah ๐Ÿ™„

Si ibu saat ini tetap berkeliling, dan saat capek, beristirahat sambil masih menjajakan dagangannya kepada pembeli di SPBU Karanglo-Malang. Beberapa hari yang lalu, saat cuaca gerimis pun, saia masih bertemu dengan ibu ini, masih tetap menggendong anaknya di punggung, memakai sebuah payung besar supaya anak dan dirinya tidak kehujanan serta menenteng tas plastik berisi dagangan jas hujan. Semoga lancar ya bu, rejekinya njenengan dan putranya.

Semoga berguna…

 

Beberapa bahaya saat hujan mulai turun, yuk #cariaman

Pagi masbro..

Akhir – akhir ini, sepertinya tetesan air dari langit (baca : hujan) sudah mulai sering menyapa. Kalau bulannya sih, memang masuk bulan musim hujan, yang biasanya sekitar September hingga Desember, meski kadang juga memanjang hingga bulan Februari segala. Cuaca yang masih belum menentu, sebelumnya panas dan tiba-tiba mendung diikuti hujan gerimis memang sedikit membuat kelabakan. Bukan apa-apa, terutama biker yang nggak prepare alias siap dengan peralatan anti hujan.

Kalau di skutik atau bebek sih masih mending, punya bagasi yang bisa difungsikan sebagai tempat jas hujan/mantel dan sepatu ganti ataupun perangkat lain buat sarana menerabas hujan. Yang sport, karena minim bagasi, kayak si bleki Honda New CB150R saia misalnya, kudu iklas mengikat jas hujan di jok belakang kala riding berangkat dan pulang kerja. Nah, banyak kejadian, karena hujan turun mendadak, terjadi beberapa kecelakaan yang dipicu biker terburu-buru hingga menambah kecepatan (baca : ngebut). Kenapa sih terburu-buru saat hujan mulai turun. Ada beberapa jawaban yang berhasil saia himpun. Ngebut supaya nggak kehujanan. Continue reading

(Masih) Musim Hujan, siapkan (plastik) motormu

Pagi masbro…

Tadi pagi, saat ke dinas lain, di parkiran nampak sesosok Honda Tiger hitam. Nggak ada yang aneh sih dengan motor hitam ini. Sedikit modifikasi di velg yang menggunakan CW variasi 17″ dan rada terondol dengan melepas body belakang dan box filter udara beserta cover tengah body.

filterYang menggelitik, Continue reading

Sungai kecil ini ternyata..

Masih ingat posting banjir di Blimbing ini? Ternyata, meluapnya air hingga merendam separuh badan jalan A. Yani Blimbing, Malang ini, berasal dari sungai kecil ini

bjir3

Ya, sungai kecil di sisi barat jalan raya ini, sebenarnya, persis di sebelum jalan raya, sudah berbelok ke selatan, melalui saluran pembuangan yang cukup besar. Mengarah ke selatan, bergabung dengan beberapa saluran pembuangan lain, masuk ke saluran yang lebih besar. Nah, karena lebar sungai yang relatif sempit, juga dangkal karena timbunan material, akhirnya, air tidak tertampung lagi oleh sungai dan saluran pembuangan. Alhasil, meluber hingga ke jalan raya, dan sukses merendam dengan ketinggian hingga betis orang dewasa.

gambar : surya malang

gambar : surya malang

Beberapa waktu silam, Pemkot Malang beserta warga dan instansi lain, sudah mengadakan kerja bakti, pengerukan saluran ini. Juga, telah dilakukan pelebaran saluran ke arah selatan, dengan tujuan memperlancar aliran air dan menambah volume air yang mampu ditampung. Entah mengapa, begitu diguyur hujan deras beberapa jam saja, tetapย  meluap. Apa karena sudah ada pendangkalan lagi, atau karena sampah? Semoga saja, instansi terkait tidak tutup mata dengan kejadian ini, mengingat sekarang ini, hanyalah awal musim hujan, yang sangat besar kemungkinan, akan terus meningkat , berkaitan dengan curah hujan hujan dan air limpahan sungai.