Berusaha safety meski gak maksimal, oh obrok

Pagi masbro..

Keberadaan sepeda motor sebagai sarana transportasi sekaligus sebagai alat untuk mencari nafkah , bagi hampir banyak bikers di beragam tempat memang sudah jadi semacam hal biasa. Selain sebagai piranti wira-wiri ke tempat kerja, sepeda motor juga sebagai sebagai obyek kerja. Seperti abang-abang ojek baik online maupun offline, hingga para wiraswasta. Yups, sudah jamak ditemu motor dimodifikasi sehingga menunjang kerja. Misal ditambah anhang/gerobak.

Termasuk salah satu yang sering banget saia temui di daerah saia. Motor dipasangi keranjang bawaan di sisi kiri dan kanan untuk bawa barang, hingga yang paten alias permanen untuk dipakai sebagai semacam etalase barang dagangan. Ini nih yang sering nongkrong dan berjualan ditepi jalan , dengan dagangan seperti kacamata hitam, beragam masker , sarung tangan dan pernak-pernik bikers.

Motor, ditambah dengan semacam papan dan kawat jaring, digunakan sebagai cantolan barang dagangan. Juga sebagai wadah barang juga. Efeknya, jelas, dimensi motor bertambah. Selain melar ke samping sisi kanan dan kiri, juga ke atas tuh, karena tinggi.

Gegara ini, yang jelas Continue reading

Ibu penjual jas hujan keliling

Medio Desember 2017. Sabtu lalu, sepulang lembur, cuaca sudah rada gelap. Mendung menggantung sepanjang perjalanan pulang ke Singosari. Eh, ini perut tak bisa diajak kompromi. Daripada gemetar handling motor, berbeloklah saia ke pinggir jalan, sedikit memutar, ke warten mi ayam di pinggir jalan. Sambil ngobrol dengan pak-e pemilik (langganan sejak masih kuliah 😆 ), tak terasa, habislah semangkuk mi ayam beserta segelas es teh.

Beberapa saat kemudian, ada seorang ibu, belum begitu tua, mungkin sepantar usia saia, menggendong anak menggunakan selendang di punggungnya, berusia kisaran 4 tahunan yang tertidur pulas, masuk ke warten. Beliau menawarkan dagangan, berupa jas hujan. Ada beberapa buah saia lirik di dalam kantong kresek besar yang ditenteng. Mulai dari ponco/batman, hingga jas hujan kresek/plastik.

Rasa iba menghentak sanubari saia. Rasa kenyang setalah menyantap mi ayam, langsung sirna, berganti rasa iba. Maksud hati ingin membantu si ibu tersebut, akhirnya saia urungkan. Lho? Iya…takutnya, didalam warung yang lagi rame pembeli, takut ada yang menilai lain, juga takut salah paham dari sang ibu akan maksud saia. Akhirnya, saia menggeleng saat ditawari jas hujan.

Sang ibu tadi pun berlalu, tanpa ada seorangpun yang membeli dagangannya, termasuk saia. Setelah membayar makanan, saia nyalakan motor, lalu melaju pelan, di belakang si ibu yang sedang berjalan di tepi jalan. Saia lalu berhenti beberapa meter didepannya. Saia sapa, langsung si ibu tadi berhenti sambil kembali menawarkan dagangannya. Rupanya, beliau kurang ngeh kalo saia tadi sudah bertemu di warung mi. Mungkin, karena pake helm plus masker.

Saia tanya, “berapa bu, yang kresek?” Dijawab : 7 ribu, mas” sambil mengambilkan beberapa buah. Saia ambil satu buah, warna hijau. Sambil mengangsurkan selembar kertas rupiah, saia bilang ke ibu penjual, “Ngapunten bu, ndak usah disusuki. Didamel jajan-e putrane mawon” (Maaf, permisi bu, tidak usah diberi kembalian, untuk jajan anaknya saja). Spekulasi saat itu, takut si ibu tidak terima, menolak atau salah paham. Ternyata nggak, beliau menunduk sambil mengucapkan terima kasih. Saia segera berlalu, menahan rasa ingin pulang, bertemu dengan istri dan 2 buah hati saia yang menunggu di rumah 🙄

Si ibu saat ini tetap berkeliling, dan saat capek, beristirahat sambil masih menjajakan dagangannya kepada pembeli di SPBU Karanglo-Malang. Beberapa hari yang lalu, saat cuaca gerimis pun, saia masih bertemu dengan ibu ini, masih tetap menggendong anaknya di punggung, memakai sebuah payung besar supaya anak dan dirinya tidak kehujanan serta menenteng tas plastik berisi dagangan jas hujan. Semoga lancar ya bu, rejekinya njenengan dan putranya.

Semoga berguna…