Mobil-mobilan kayu, mainan tempo dulu

Pagi masbro, sehat??

Buat masbro yang “keluaran” tahun 80an atau 70an, kayak saia :mrgreen:, pasti kenal dengan mainan sejenis ini. Ya, semacam mobil-mobilan berbahan kayu, dengan beragam ukuran. Kalo istilah sekarang sih, kayak replika gitu…replika beberapa kendaraan besar, macam truk, bus dan sebangsanya. Tahun 1980an, mainan plastik belum begitu membludak kayak jaman sekarang. Justru yang ada, selain berbahan kayu, juga berbahan besi, yang harganya bisa bikin melotot.

gambar : google

gambar : google

Nah, adalah Pak Mansur. Seorang Continue reading

Seru juga ya, kalo suasana kerja ala Kartini tempo dulu

Pagi masbro..

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Siapa sih yang nggak kenal dengan tokoh nasional, pencetus emansipasi wanita ini? Di beberapa instansi, maupun perusahaan, ada yang secara khusus menggelar acara berkaitan dengan momen Kartini ini. Malah, makin meriah dengan berbagai lomba. Suasana yang sama saia temui di salah satu dealer Honda di Malang, MPM Basuki Rahmat Jum’at lalu, 21 April 2017.

Pemandangan unik ala tempo dulu, tersaji di area lobby utama. Skutik baru, All New Scoopy, disandingkan dengan sebuah sepeda onthel klasik. Weleh..berasa loncatan teknologi yang luar biasa ya saat lihat dua kendaraan berbeda generasi ini berjajar. Sama-sama besi, sama-sama buatan manusia, sama-sama memudahkan transportasi. Bedanya, yang satu gress hewes-hewes, praktis dan efisien serta adopsi teknologi baru. Tapi jangan salah lho, sepeda onthel klasik keluaran lawas, ada yg bisa buat beli beberapa Scoopy sekaligus lho :mrgreen:

Nggak itu saja. Dekorasi juga bernuansa jaman dulu, ada beberapa ornamen komplit seperti pohon pisang lengkap dengan buahnya, ikatan padi dan bakul berisi sayuran. Weleh.. Dan masih berlanjut. Karyawan, baik pria wanita, kompak mengenakan busana tradisional masbro. Yang wanita berkebaya dengan aneka model, pria-nya mulai model juragan dengan setelan beskap hingga tampilan petani, bisa dijumpai.

Asyiknya, meski dengan kemasan seperti itu, mereka tetap menjalankan tugas seperti biasa. Yang di belakang meja, yang melayani konsumen, tetap. Nggak ada perubahan dan nggak ada kesulitan sama sekali. Salah seorang konsumen sempat mencetus, “Asik juga nih, berasa di tempat jadul tapi yang nongkrong motor terbaru”

Yang jelas, semangat emansipasi wanita masa kini, itu yang utama. Poin peringatan hari Kartini. Selamat Hari Kartini, biarin deh meski telat :mrgreen:

Semoga berguna

 

Puthu Lanang, jajanan lawas legendaris Malang

Kuliner lagi masbro…kali ini, tipis-tipis saja, gak usah yang berat-berat. Cemilan, tapi hanya dijumpai kala malam menjelang, dan sang surya mulai larut dalam kesendiriannya di peraduan. Halaah… :mrgreen:

Camilan, eh, jajanan kali ini tergolong jajan pasar. Tradisional sekali, dan asli, mengingatkan pada jaman saia masih kecil, yah, era tahun 80an. Widih…tua banget ya saia? 😆 😆 Dulu kala, jajan pasar seperti yang bakal saia ulas, gampang sekali dijumpai. Enak, murah, kenyang dan sehat, hehehe. Nah, soal tempat jualan jajanan ini, sebenarnya sudah tergolong uzur masbro. Puthu Lanang, demikian judulnya. putu-lanang

Jangan membayangkan, Continue reading

Menjes, makanan gorengan khas Malang

Makanan yang satu ini, mungkin daerah lain ada yang serupa. Sejenis dengan tempe sebenarnya. Mulai jaman saia masih kecil, hingga sekarang, masih beredar dan mudah dijumpai. Menjes, merupakan makanan hasil fermentasi dari limbah tahu. Kalau tahu, yang dipakai adalah air sari kedelai, nah, ampasnya, itu lah yang dimanfaatkan menjadi menjes. Diolah lagi, menambahkan ragi dan beberapa bahan lain, taraaa….jadilah si menjes. Nih contoh tampilan si menjes,kala masih nongkrong di dapur rumah saia 😆

menjes1Didaerah kulonan, Jawa Tengah dsk, Continue reading

Soto Ayam Lonceng, sedjak 1965

Biar yang lain masih rame membahas MotoGP, bahas makan-makan aja yuk disini 😆

Siang-siang nan panas, habis dari setor kerjaan, saia balik kantor. Mlipir dari arah Depo Arsip Jl Bingkil, perut minta diisi. Akhirnya, nyobain soto ayam legendaris Malang, di area timur Pasar Besar Malang.
Warung Soto Ayam Lonceng ini letaknya persis kawasan Kyai Tamin, Kota Malang. Terkenal dengan nama “Soto Lonceng”, karena memang tempatnya tidak jauh dari monumen lonceng atau jam kuno yang hingga kini masih ada di kawasan itu. Untuk menemukannya, gampang. Karena letaknya di pinggir jalan besar sebelah timur Pasar Besar, Kota Malang. Cuma, meski di pinggir jalan, kalau tidak jeli, sangat mungkin terlewat, karena ukuran bangunan yang tergolong kecil, bila dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya.

soto1Bangunannya terkesan kuno. Bagian luar, dicat warna putih, dengan kusen pintu dan jendela berwarna biru. Petunjuk, hanya ada papan nama kayu dengan warna dasar putih kekuningan dan ditulis dengan cat warna hitam. Tulisannya juga sangat sederhana. Hanya tertulis Soto Ayam Lonceng saja. Masuk kedalam, nuansa jaman dulu, sangat terlihat. Yakni, masih menggunakan ubin khas zaman dulu yang berwarna krem. Pada bagian atas pintu masuk juga masih ada izin dagang dari plakat kayu yang masih menggunakan ejaan lama.

Di bagian pojok-pojok ruangan, terdapat papan yang difungsikan sebagai meja. Sementara untuk meja makan, hanya ada dua meja dengan ukuran sedang. Sementara pada bagian pojok ruangan sebelah timur, terdapat semacam rombong berwarna coklat mengkilap yang digunakan oleh pemilik warung. Ya, mungkin mempertahankan nuansa aslinya, agar orang yang mampir tidak hanya nostalgia dengan menyantap masakannya, namun juga merasakan keaslian lokasinya CMIIW

soto4Lanjut, langsung pesan saja. Di menu, hanya ada 1 menu makanan, ya soto ayam itu :lol:, lha kalo minuman, ada beberapa macam seperti teh panas/es, kopi, jeruk panas/es.
Gak berapa lama dirakit, eeh, diracik, seporsi soto ayam Lamongan jadul, sudah tersaji dimeja saia. Nasi, dengan taburan suwiran/potongan daging ayam, bihun/soun, serutan kubis, dan irisan telur rebus, diguyur kuah soto yang sedikit keruh/butek..hemm, sempat gak sabar, pingin cepat disikat, padahal belum difoto 😆

soto2Rasanya, berasa balik ke jaman dulu. Serius masbro, semasa kecil, kalo pas ke kota (karena rumah di desa), diajak bapak-ibu, pulangnya pasti mampir ke soto ini. Rasanya, seingat memori saia, tetap. Tidak terlalu gurih kayak soto jaman sekarang, ada khas kuah keruhnya. Ditemani sedikit kecap manis dan sambal, makin nendang. Hemm…bener-bener nostalgia jaman kecil, hikss..hikss
Berangkat naik oplet, ganti bemo di kota, jalannya ke alun-alun, sebelum pulang makan soto dulu disini. Walah…OOT
Jelasnya, ini soto jadul, wajib dicoba pemburu kuliner. Meski sangat sederhana, tapi, buat yang punya kenangan dengan tempo dulu alias jaman dulu, sangat layak dicoba. Kalo gak salah, warung soto ini juga sempat masuk di buku 50 Tempat Jajanan dan Oleh-oleh khas Malang serta buku 100 tempat makan legendaris di Malang 20-70 tahun CMIIW, lha bukunya ada tuh di tempat kerja saia 😉

soto 5Dengan harga yang masih sangat terjangkau, seporsi soto ayam Lamongan ini dibanderol IDR 12.000, sementara untuk minuman teh, cukup IDR 3.000.
Monggo dicoba dulur…