Mobil murah jaman dulu, sudah ada sejak 1928

Pagi masbro..

Mobil, sebagai salah satu kendaraan sarana transportasi, semenjak dahulu memang menjadi barang mewah yang tidak semua orang bisa memilikinya. Diawal kemunculannya, mobil dengan 4 roda hanya bisa dibeli raja pribumi atau orang Eropa kaya saja. Bagi golongan menengah seperti orang Indo (campuran Eropa dan pribumi) atau para pedagang dan golongan miskin punya mobil hanyalah sebatas mimpi. Untuk urusan transportasi, kedua golongan ini masih mengandalkan kuda, binatang bertenaga yang lebih terjangkau harganya serta multiguna

Hal ini, dibaca sebuah perusahaan di Surabaya, Jawa Timur yang dulu bernama kota Soerabaia. Adalah NV Demmo , yang kemudian membuat sebuah “mobil” murah pengganti kereta kuda. Usaha pembuatan “mobil” murah bernama Demmo ini, bisa memproduksi “mobil” murah yang bisa dibeli masyarakat kebanyakan. Demmo pertama kali dibuat dan dijual pada tahun 1928 di kota Surabaya sebagai kendaraan pengganti kendaraan yang ditarik dengan hewan seperti kuda atau sapi macam dokar, pedati, sado atau sejenisnya.

Continue reading

Binter Merzy eks Patwal, komplit nan unik

Pagi masbro, apa kabar? Sehat? Maaf nih, beberapa hari blog sempat lowong, karena kerjaan di dunia nyata lumayan menyita, jiaahh :mrgreen:

Buat masbro dan mungkin mbaksis, terutama keluaran , eeh, maksudnya kelahiran kisaran tahun 70an, pasti beberapa ngak asing dengan sebuah brand/merk motor yang lumayan booming di awal tahun 1980. Binter Merzy. Buat yang mungkin belum tahu, Binter merupakan nama yang dipakai Kawasaki di era itu. “Bintang Terang” , itu nama panjangnya, merujuk pada nama perusahaan PT. Bintang Terang sebagai perpanjangan tangan Kawasaki Jepang di Indonesia. Sayangnya, ini merk Binter, gulung tikar di kisaran tahun 1985 karena kasus yang membelit salah satu petingginya.

binter-kawasakiProduk Continue reading

Soto Ayam Lonceng, sedjak 1965

Biar yang lain masih rame membahas MotoGP, bahas makan-makan aja yuk disini 😆

Siang-siang nan panas, habis dari setor kerjaan, saia balik kantor. Mlipir dari arah Depo Arsip Jl Bingkil, perut minta diisi. Akhirnya, nyobain soto ayam legendaris Malang, di area timur Pasar Besar Malang.
Warung Soto Ayam Lonceng ini letaknya persis kawasan Kyai Tamin, Kota Malang. Terkenal dengan nama “Soto Lonceng”, karena memang tempatnya tidak jauh dari monumen lonceng atau jam kuno yang hingga kini masih ada di kawasan itu. Untuk menemukannya, gampang. Karena letaknya di pinggir jalan besar sebelah timur Pasar Besar, Kota Malang. Cuma, meski di pinggir jalan, kalau tidak jeli, sangat mungkin terlewat, karena ukuran bangunan yang tergolong kecil, bila dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya.

soto1Bangunannya terkesan kuno. Bagian luar, dicat warna putih, dengan kusen pintu dan jendela berwarna biru. Petunjuk, hanya ada papan nama kayu dengan warna dasar putih kekuningan dan ditulis dengan cat warna hitam. Tulisannya juga sangat sederhana. Hanya tertulis Soto Ayam Lonceng saja. Masuk kedalam, nuansa jaman dulu, sangat terlihat. Yakni, masih menggunakan ubin khas zaman dulu yang berwarna krem. Pada bagian atas pintu masuk juga masih ada izin dagang dari plakat kayu yang masih menggunakan ejaan lama.

Di bagian pojok-pojok ruangan, terdapat papan yang difungsikan sebagai meja. Sementara untuk meja makan, hanya ada dua meja dengan ukuran sedang. Sementara pada bagian pojok ruangan sebelah timur, terdapat semacam rombong berwarna coklat mengkilap yang digunakan oleh pemilik warung. Ya, mungkin mempertahankan nuansa aslinya, agar orang yang mampir tidak hanya nostalgia dengan menyantap masakannya, namun juga merasakan keaslian lokasinya CMIIW

soto4Lanjut, langsung pesan saja. Di menu, hanya ada 1 menu makanan, ya soto ayam itu :lol:, lha kalo minuman, ada beberapa macam seperti teh panas/es, kopi, jeruk panas/es.
Gak berapa lama dirakit, eeh, diracik, seporsi soto ayam Lamongan jadul, sudah tersaji dimeja saia. Nasi, dengan taburan suwiran/potongan daging ayam, bihun/soun, serutan kubis, dan irisan telur rebus, diguyur kuah soto yang sedikit keruh/butek..hemm, sempat gak sabar, pingin cepat disikat, padahal belum difoto 😆

soto2Rasanya, berasa balik ke jaman dulu. Serius masbro, semasa kecil, kalo pas ke kota (karena rumah di desa), diajak bapak-ibu, pulangnya pasti mampir ke soto ini. Rasanya, seingat memori saia, tetap. Tidak terlalu gurih kayak soto jaman sekarang, ada khas kuah keruhnya. Ditemani sedikit kecap manis dan sambal, makin nendang. Hemm…bener-bener nostalgia jaman kecil, hikss..hikss
Berangkat naik oplet, ganti bemo di kota, jalannya ke alun-alun, sebelum pulang makan soto dulu disini. Walah…OOT
Jelasnya, ini soto jadul, wajib dicoba pemburu kuliner. Meski sangat sederhana, tapi, buat yang punya kenangan dengan tempo dulu alias jaman dulu, sangat layak dicoba. Kalo gak salah, warung soto ini juga sempat masuk di buku 50 Tempat Jajanan dan Oleh-oleh khas Malang serta buku 100 tempat makan legendaris di Malang 20-70 tahun CMIIW, lha bukunya ada tuh di tempat kerja saia 😉

soto 5Dengan harga yang masih sangat terjangkau, seporsi soto ayam Lamongan ini dibanderol IDR 12.000, sementara untuk minuman teh, cukup IDR 3.000.
Monggo dicoba dulur…