Kemarin, ada orderan uji kir buat pikap box punya kantor. Sebenarnya, dah 2 bulanan nih pikap wira-wiri tanpa ada peneng-stiker kir dari Dishub 😆 Meluncur ke UPT Pelaksana Teknis LLAJ Malang, di jalan raya Karanglo-Malang. Eh, ternyata dan ternyata, di tempat uji kir ini, merupakan kerja gabungan antara Dinas Perhubungan Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Nah, rame kan? Itu aja, untuk Kabupaten Malang, khusus wilayah utara saja, kalo Kab Malang bagian selatan ada di Talangagung-Kepanjen.
Continue reading
Category safety
Eh, baru ngeh ada ginian
Semua pasti sudah paham bin mahfum, kalo jas hujan model ponco/jubah/batman sebenarnya tidak direkomen untuk riding naik motor. Paling aman dan nyaman memang model 2 pieces, alias setelan jaket+celana, bukan 2 pieces bikini loh 😆
Nah, tadi ada rekan yang baru beli jas hujan ponco, nah, di pembungkusnya, kok ndilalah nemu petunjuk ginian.
Gimana pendapat masbro sekalian?? 😉
Icip Honda Verza
Hemm..ning Verza, kalo rekan-rekan lain bikin nickname motor batangan ini. Diluncurkan AHM sebagai motor sport entry level, dibuat “batu loncatan” dari pemakai matic, bebek/cub sebelum ke sport yang “beneran” kayak CB150R dan CBR series. Dengan harga yang hanya sedikit diatas harga bebek varian tertinggi dan matik, secara hitungan, bisa jadi “pelarian” 😆 Eits, meski tergolong entry level, Verza ini menawarkan sisi lainnya. Dengan mesin 150 cc 2 katup SOHC injeksi, meski soal speed memang dibawah kakak-kakaknya, tapiii..torsi Verza, sangat bisa diandalkan.

Yup, tanpa harus bejek gas dalam-dalam, buat akselerasi, bawa beban dan tanjakan, terasa sangat cukup. Opini pribadi saia lho ya IMHO. Belum lagi, posisi riding, yang dulu sangat terkenal diunggulkan Honda, yaitu segitiga kenyamanan CMIIW, terbukti lagi pada Verza. Ya, sangat mirip kenyamanan yang didapat pada New Megapro dan NMP (monosok). Setang lumayan tinggi, footstep mirip posisi bebek, terbukti nyaman untuk dipakai dalam jarak jauh atau waktu tempuh lama.
Saia kebagian nunggang Verza 2 kali dalam fun touring ke Jember beberapa waktu lalu. Yakni, sekejap, dari minimarket ke Rambipuji dan saat perjalanan pulang, dari Tongas (Bromo Asri) sampai MPM Sedati-Sidoarjo. Rasanya, kayak reuni dengan si Meggy, kuda besi saia 2007 lalu. Posisi nyaman, cenderung tegak-santai karena setang tinggi.
Akselerasi awal lumayan kerasa, karena torsi didapat pada rpm tidak terlalu tinggi. Dipadu knalpot standar yang menurut saia, berwibawa suaranya, ulem (opo iki terjemahan-e), tapi kalo dibetot, ilang deh ngebas-nya 😆
Tapi, di sisi lain, sesuai dengan bandrol entry level-nya, tenaga pun terbatas, alias napas cepet abis. Karena gak ada tachometer, susah tahu putaran mesin alias cuma pake feeling dan kira-kira. Abis melewati kecepatan 90 kpj, kecepatan sudah susah untuk naik lagi, sementara mesin sudah teriak kenceng dan posisi gir persneling sudah topgear alias 5 😆
Alhasil, ya sudah, harus pasrah, gak bisa tarik-tarikan sama kang ndas yang nunggang CBR

Overall, kalau untuk akselerasi, lebih dari cukuplah, kalo selap-selip di kemacetan, Verza termasuk enteng meliuk, padahal bodi gede.
Kerja suspensi depan enak, kalo belakang, sedikit rada keras. Mungkin, dipersiapkan untuk kuda beban juga nih sama AHM, kalo buat boncengan nggak ambles/keempukan.
Kalo penilaian akhir saia pribadi, buat di , maap nih, pedesaan yang banyak tanjakan, jalan gak rata dan antar lokasi rada jauh, sangat cocok. Juga kalo bawa beban, entah barang atau manusia, torsinya cukup…
Mau ke sawah, angkut rumput atau ngojek, hayuuukkk 😆

Tapi jangan salah, di perkotaan juga handal kok, terutama di sela kemacetan. Buktinya, teman kantor saia juga milih nih motor. Katanya sih, enak…murah, irit dan lincah, hehehehe..penuturan beliau loh. Gak percaya? Coba tanya kang Rio http://motorrio.com/ …tiap hari gak bosen-bosen nunggang Verza pp rumah-kantor, hehehehe
Icip New Honda SupraX125 FI
Sebenarnya, nih bebek saia tunggangi pas perjalanan pulang dari Papuma Jember. Sebelumnya, dari cekpoin 2 Rambipuji ke Papuma, saia nunggang matic BeAT FI. Impresi-nya gak usah saia ceritakan deh, rasanya remek/badan capek, karena nunggang motor metik nan imut ini, persis yang dirasakan kang Tarom
Fisik si New SupraX125 FI, saia lihat sekilas, kok lebih kecil dan pendek ya dibanding Supra X 125 lawas? Terutama melihat dari jok. Ternyata memang iya, ada sedikit perbedaan dengan versi sebelumnya. Spek si New PxLxT 1.918 x 709 x 1.101 mm, dengan jarak terendah ke tanah 136.5 mm, sedang SupraX125 lawas PxLxT 1.889 x 702x 1094 mm, dengan jarak terendah ke tanah 138 mm. Meski sedikit, tetap terlihat dan terasa pas ditunggangi.

Dengan mesin yang identik plus sistem injeksi, yang sangat saia rasakan adalah tenaga yang lebih ngisi di tiap gigi persneling. Begitu oper gigi, gak ada gejala tenaga sedikit drop, seperti generasi sebelumnya. Di jalan yang rada rusak, terasa banget, suspensi belakang yang lumayan keras. Bantingan rada menghantam badan. Tapi, dengan performa mesin yang enak menurut saia, jadi terkompensasi, hehehe..
Akselerasi yang saia rasakan, berbeda dengan Revo FI, meski sama-sama menggunakan sistem injeksi step 5. Ya iyalah, wong kubikasi aja beda, belum perbandingan transmisi/persneling, berat dan lain sebagainya. Akselerasi lebih bertenaga, dan mantap.
Secara body, mirip versi lawas yang disuruh diet, lebih ramping, apalagi bagasi yang gak helm-in. Ada tambahan fitur yang sempat dijajal teman-teman Jatimotoblog, yaitu port untuk charger gadget di bagasi. Ya, sangat membantu kala HP dan kawan-kawannya kekurangan daya, sementara colokan listrik tak ada. Dengan car charger yang ditancapkan ke soket/port di bagasi New Supra X125 FI, bisa menolong.

Cuma, dengan catatan, untuk mengaktifkan, semua kelistrikan harus nyala, alias kunci kontak ON. Rekomen pas dijalan, sambil ngecas HP di bagasi. Tapii..sebaiknya, tambahkan alas atau apa-lah, mungkin tas untuk menjaga posisi gadget tetap aman, tidak terbanting-banting selama perjalanan.
Oh iya, saia sedikit bingung pas buka jok, ternyata, tidak ada tombol khusus pembuka jok layaknya Beat FI atau Vario 125 FI. Jadi, setelah kunci kontak posisi OFF, ada space buat buka jok dengan menekan kunci kedalam. Ctek…jokpun terbuka, hehehehe…ndeso yo saia? 😆
Hem, bebek yang cocok untuk komuter rumah tangga nih, enteng, tenaga cukup. Cuma, desain knalpot, saia lebih suka versi lawas, lebih sporty meski minus pelindung panas.
Oke, sekian review singkat saia, semoga bermanfaat
Icip New Honda CBR150R dual keen eyes
Nah, lanjut. Di cek poin 1 Tongas, abis ngisi bbm ridernya alias makan, motor juga diisi pertamax, lanjut menuju cekpoin 2 di Rambipuji-Jember.

Abis nunggang Revo FI disini, langsung loncat kasta, joki CBR150R 😆
Lha hampir semua dah milih motor masing-masing dalam sesi tagteam (kayak gulat gaya bebas aja), yang terlihat ngejogrok diparkiran malah si Continue reading
Icip Honda Revo FI
Yup, etape pertama fun toring ke Papuma-Jember, saia lakoni dengan bebek entry level Honda, Revo FI.

Hiya, gara-gara keasyikan mengamati dan ambil gambar new CBR150R, jadi kabagian “sisa” aja, hehehehe..
Odometer saia jepret masih 50an kilo, emang masih seger nih bebek.

Impresi pertama pas nunggang, emang termasuk rendah nih motor, maklum, biasa nunggang motor batangan tinggi. Menyesuaikan posisi sebentar, nyalakan mesin, jreng..starter masih khas, sama kayak bebek Honda lainnya. Mulai jalan, masuk gigi 1, hem, lumayan empuk. Tarikan biasa aja, malah tergolong halus. Lalulintas merayap, maksimal cuma pake gigi 2. Lanjut masuk area lancar, sedikit bisa rada nambah kecepatan.
Akhirnya, abis wilayah Bangil, nemu jalan lumayan lebar dan mulus, bisa sedikit ekplore tenaga si Revo. Ambil jarak dengan teman-teman di depan, geber deh sampai top gear. Sedikit menyelami karakter mesin, akhirnya kecepatan mentok di 110 kpj on spido. Posisi gas dah mentok 😆
Akhirnya, sampe juga di cek point 1 di Tongas Asri jam 10.30. Keluhan? Perkiraan awal, bakalan pegel naik bebek jarak jauh, tapiii malah gak pegel nih. Kalo pendapat saia pribadi sih, posisi riding Revo FI ini tergolong nyaman, meski postur saia sedikit diatas normal, 183/79. Diakali posisi duduk rada mundur, akhirnya nemu posisi yang lumayan ideal buat saia. Sedikit yang mengganggu, yakni pas menurunkan gigi persneling, terasa keras banget, sampe perlu rada kasar nginjaknya, lha kalo gak gitu gak mau turun gigi. Apa pas unit ini aja, ato gara-gara masih baru ya? Gak paham saia, soalnya nyoba Revo karbu lawas punya teman, enak-enak aja naik-turun gigi.
Kesimpulan akhir soal Revo FI, khas bebek pekerja 😆 Murah, tenaga sedang, tergolong irit, posisi duduk juga nyaman. Kok irit? Iya, dipake geber-geberan Sidoarjo-Tongas, indikator BBM cuma geser sedikit. Maaf kalo gak spesifik, susah kalo mau ngetes konsumsi BBM, lha ganti-ganti motor 🙂
Silakan dikomentari
Modif CB150R Spoke Wheel alias ruji alias jari-jari
Sekitar akhir tahun 2013, si ciput saia rubah sedikit kaki-kakinya, roda saia “downgrade” ke spoke, alias jari-jari. Lah, kenapa??
Niat awal, pingin tampilan supermoto, jadi pake velg jari-jari, ban agak gedean, plus sepatbor depan supermoto. Seiring berjalan waktu dan duit , itu sepatbor depan gak kebeli-beli…padahal velg udah, ban juga udah. Karena saia pengen-nya make punya dtracker150, sementara barangnya langka, alias kudu inden di kawasaki.
Sementara sepatbor depan belom kebeli, eh, musim berganti…datanglah musim hujan. semakin galau deh,maklum kalo nantinya jadi pake sepatbor tinggi itu, kebayang muncratan air dari roda depan, hahahahaha..wong sepatbor standar cb150r aja kalo gak dipakein kepet, muncratnya kemana-mana..

Balik ke topik…untuk modifikasi roda menjadi jari-jari alias SW, hampir semua saia kerjakan sendiri, mulai belanja sampe pemasangan…kecuali pas mbubut en ngebor, nah, itu yang gak bisa dan gak punya alatnya..
Detilnya, saia mulai dari tromol depan ya. Continue reading


