Impresi harian Yamaha Aerox 155 R-version (2 habis), bawa riding dan dynotest

Pagi masbro..

Artikel pertama nih di awal tahun 2018. Sampe lupa saia selaku admin aselimalang.com mengucapkan, “Selamat Tahun Baru 2018 “ ya..semoga kita semua diberkahi kesuksesan. Amin…

Setelah mengulas sedikit tampilan dan beberapa fitur Yamaha Aerox 155 R-version, di artikel yang lalu, kini saia berbagi rasa mengendarai skutik bongsor ini. Kebetulan , istri saia juga penasaran dengan Aerox ini, jadi juga sempat menggunakan nih motor dan bisa juga memberikan pendapatnya pribadi tentang motor ini. Maklum, biasa menggunakan skutik juga di rumah, Honda Vario 110 FI.

Posisi riding.  Termasuk nyaman untuk saia, karena posisi setang dan jok cukup dekat, laiknya skutik. Paling terasa nyaman memang posisi duduk pengendara. Jok yang panjang dan lebar, membuat ada pilihan posisi duduk sesuai postur tubuh. Untuk postur setinggi saia, 181 cm, paling pas ya duduk mentok ke belakang, hingga perbatasan undakan jok. Jok Aerox, memang berkontur, ada undakan seperti batas, antara pengendara dan pembonceng. Kalau pas di lokasi itu, rasanya posisi bokong dan tulang ekor ada sedikit penyangga. Posisi lutut juga nggak mentok ke dek/sayap, masih ada ruang tersisa. Sedang untuk mencapai tanah, ya jelas menapak sempurna dong :mrgreen:

Sementara, saat dijajal istri yang punya tinggi 157 cm, memang masih rada tinggi. Saat berhenti, posisi kaki masih  jinjit untuk mencapai tanah. Sedang kala sudah berkendara , nggak ada keluhan sama sekali. Setang mudah dijangkau dan posisi kaki di dek juga nyaman. Kesan berat dan susah untuk ditunggangi, hilang sudah. Padahal, awal mau menjajal, rada was-was juga, karena secara fisik memang gede,  dibanding dengan postur yang tergolong kecil. Apalagi melihat spek tinggi jok di angka 790 mm, bandingkan dengan Vario 110 yang hanya 755 mm. Lumayan bedanya kan

Stabilitas. Paling terasa asyik, kala dibuat bermanuver dan menikung. Motor nurut dan kesannya, kalau orang Jawa bilang ‘anteb’. Nggak ada goyang-goyang atau oleng. Nikung lebih miring jadi pede, lha anteng banget. Salah satu faktor yaitu sokbreker belakangnya yang punya tabung oli terpisah. Rada keras memang tapi efek stabilnya dapat. Kesan yang sama juga diperoleh istri saia. Buat manuver enak katanya. Nggak terasa berat nih motor, meski gede.

Meski hanya sempat mencoba dengan jarak nggak kelewat jauh sekaligus belanja ke pasar yang jaraknya sekitar 8 km 😆 kalau udah jalan, nggak kerasa berat dan besarnya nih Aerox. Malah menarik perhatian karena populasi yang masih terbilang nggak begitu banyak, plus kapasitas bagasi yang besar. Makanya, saat di parkiran dibantu jukir masukkan barang belanjaan, yang juga pecicilan mengamati besarnya kapasitas bagasi Aerox. Body besar, memang sedikit ribet kala parkir, juga makan ruang lebih. Tapi, ternyata dan ternyata, radius putar Aerox setara skutik biasa. Pernah jajal NMax, radius putar sedikit lebih panjang sehingga kalau hendak putar balik di jalan yang rada sempit, kudu 2 kali, maju muncur. Aerox, cukup sekali bisa langsung putar balik karena termasuk rada pendek, hampir nggak beda kayak skutik ‘biasa’

Penerangan. Headlamp Aerox yang diisi lampu LED, saia uji saat berkendara malam dengan 2 kondisi. Yaitu jalan rada terang karena ada penerangan jalan di daerah kota, dan kondisi lain yang sangat minim penerangan alias dominan gelap. Dan hasilnya? Simak deh foto terlampir hasilnya…

Foto diatas adalah kondisi di jalan perkotaan, yang terbilang rada terang karena terbantu oleh adanya PJU alias lampu jalan. Sedangkan kalau kondisi yang nggak ada penerangan sama sekali alias gelap total, seperti ini hasilnya.

Ternyata, model headlamp 2 sisi ini terang maksimal, dengan berbagai kondisi jalan. Saat kondisi hujan , karena waktu tidak memungkinkan nggak sempat terdokumentasi, meskipun rasanya memang, kelemahan lampu LED berwarna putih kalau diajak menembus hujan, rada menurun daya sorotnya ke aspal jalan. Lampu LED pada Aerox terpasang pada lampu utama depan dan belakang, sedangkan untuk sein masih berisi bohlam biasa berkelir kuning dengan mika bening/transparan.

Yang saia kurang sreg adalah penempatan lampu sein. Kalau yang belakang, oke-lah, bergaya sporty dengan tangkai menjulur keluar ala motor laki/sport. Cocok. Cuma yang depan, meski tetap terang dan mudah terpantau, penempatan di sayap bagian bawah kurang bisa maksimal, apalagi dari samping.

Mesin.  Sistem starter elektriknya senyap, hampir tak ada suara motor starter. Ini berkat aplikasi sistem SMG, smart motor generator yang mampu mereduksi suara motor starter. Akselerasi, enak meski butuh putaran mesin rada tinggi untuk merasakan tendangan tenaga lebih. Berasa karakter motorsport overbore, padahal spek-nya hampir square dengan ukuran diameter piston x langkah yaitu 58 x 58,7 mm.  Tenaga lebih? Yups, bakal terasa ketika VVA sudah aktif, yang berada pada putaran rpm di angka sekitar 5.500 keatas. Makin berasa nendang di putaran atas menurut saia. Kebetulan, panel dasbor Aerox 155 sudah lengkap, termasuk indikator putaran mesin/rpm yang berada pada baris paling atas.

Seperti biasa, semua motor yang berkesempatan saia jajal harian, alias bahas kerennya daily testride , saia usahakan selalu bisa uji dyno. Meskipun nggak valid 100% , tapi setidaknya gambaran keluaran uji langsung tenaga pada putaran roda belakang yang saia saksikan langsung, bisa memberikan hasil kasat mata dan memuaskan rasa penasaran. Jadi nggak hanya melulu berdasar spek dari pabrikan saja.

Pagi itu, sambil berangkat kerja, saia giring deh ke bengkel bermerk sebelah, yang punya fasilitas uji dyno. Bengkel ini juga yang saia gunakan untuk menguji dyno beberapa motor yang sudah saia testride. Pas lagi sepi karena masih pagi, segera dinaikkan dan ditangani oleh mas operatornya. Coba jalan alias run beberapa kali, hingga limit rpm si Aerox ini. Akhirnya, keluar juga di monitor, hasilnya. Didapat tenaga maksimum adalah 10,22 kW/10.020 rpm . Atau bila dikonversi ke daya kuda 13,72 HP/10.020 rpm. Sedangkan torsi maksimal yang mampu diraih, adalah 9,04 Nm/9.878 rpm.

Sedikit beda ya dengan spesifikasi resmi pabrikan, yang mencantumkan tenaga maksimal Yamaha Aerox 155 adalah 11.0 kW / 8000 RPM sedangkan torsinya 13.8 Nm / 6250 rpm. Metode pengukuran pabrikan adalah on crank atau pengukuran pada mesin, bukan roda belakang. Makanya, ada selisih hingga 1 HP pada tenaga yang terukur karena tenaga terreduksi oleh berbagai hal. Beban, gesekan roda dan beberapa hal lain yang ternyata mengurangi maksimalnya tenaga mesin yang diukur pada putaran roda belakang

Konsumsi BBM.   Namanya juga testride harian, ya saia ajak wira-wiri harian, mulai dipakai kerja, wira-wiri, termasuk juga diajak bermacet-macet ria. Karena waktu yang lagi-lagi nggak memungkinkan, nggak sempat nih saia ajak jalan jauh. Coba ukur konsumsi BBM mesin yang dibekali teknologi blue core ini. Metode paling umum dan gampang diterapkan, ya full to full. Isi BBM penuh hingga mulut tangki, lalu pake deh wira-wiri dengan berbagai kondisi jalan. Nggak lupa, tripmeter direset ke posisi nol. Selanjutnya, isi penuh lagi dengan asumsi mendekati kondisi awal, penuh hingga mulut tangki.

Hasil tripmeter hari itu, sudah menempuh jarak 47,6 km saat saia berbelok ke SPBU untuk mengisi penuh tangki. Setelah isi Pertamax 92, minta struk ke petugas, siap deh untuk dikalkulasi secara sederhana seberapa konsumsi BBM Aerox ini. Tercetak di struk terisi 1,195 liter Pertamax. Kalau dibagi dengan jarak tempuh  47,6 km, dihitung secara kasar, ketemu di angka nyaris 40 km/liter. Persisnya di angka 39,8.

Di panel dasbor Aerox sendiri, sebenarnya sudah ada pengukur rata-rata konsumsi BBM, average consumption. Nah, ini yang saia jadikan pembanding. Pengukuran average ini hasilnya 42,6 km/liter. Selisih nggak terlalu jauh kan, dengan pengukuran full to full?

Lumayan irit juga ya, bisa tembus 40 kpl, dengan berbagai kondisi jalan serta variasi kecepatan. Nggak ngebut juga sih, wong saia gak berani kencang kok, padahal dikompori, rugi testride Aerox gak dipakai ngebut :mrgreen: Yang jelas, performa mesin 155 VVA Yamaha ini cukup nampol, dan juga irit.

Sekian artikel penutup impresi harian Yamaha Aerox 155 VVA R-version yang rada telat posting artikelnya. Semoga berguna

 

Advertisements

3 comments on “Impresi harian Yamaha Aerox 155 R-version (2 habis), bawa riding dan dynotest

    • yang setahu saia ada di ahass honda, yaitu di asia motor jln sulfat, kartika sari jln jakgung suprapto dan asia motor pakisaji
      kalau yang selain bengkel resmi belum nemu mas
      soal biaya, sepaket kalau service disitu,hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s