Impresi Harian Suzuki GSX-S 150 (2) , Tes Jalan

Pagi masbro…

Melanjutkan review harian motor naked 150cc Suzuki GSX-S 150. Tentunya, setelah dipandang-pandang dan dipegang-pegang, kudu dinaiki biar lebih sahih. Yuk..jalan.

Namanya aja tes harian, ya dipakai menempuh rute harian saia kerja. Dekat saja sih, wong dari Kabupaten Malang ke Kota Malang. Melintasi beberapa titik padat lalu lintas, plus kemacetan yang makin menjadi pada saat akhir pekan. Supaya lebih mantap, saia tambah deh rutenya, dengan melewati beberapa daerah lain di Malang Raya.

Suzuki, benar-benar merealisasikan teknologi easy start system pada mesin 150cc yang terpasang pada GSX-S ini. Kondisi apapun, entah masih dingin kala pagi hari, maupun saat mesin panas sehabis muter-muter, menyalakan mesin sangat mudah. Tekan tombol elektrik starter sekejap saja, mesin sudah berputar halus. Kalo biasanya, bunyi “cekekekekkk” baru mesin nyala, di motor lain nih, lha ini GSX, eh, baru bunyi “cekek” mesin sudah menyala. Mantap…sekali sentuh, dan tak perlu waktu lama

Stasioner di putaranย  1500 rpm, getaran mesin halus. Halusnya getaran, sebanding dengan suara mesin yang untuk ukuran sport 150cc, sangat halus. Bunyi knalpot, nah, meski termasuk senyap, cukup ada bunyi antep, menjurus sedikit ngebas nggak cempreng. Penggunaan silincer yang rada menggembung besar, plus keluaran 2 moncong exhaust, berpengaruh pada suara yang dihasilkan. Meski tampilan sedikit rada kegedean silincer menurut saia pribadi. Lebih asyik lagi kalo pakai SARP barangkali ya….sayang, barangnya belum ada di dealer SMG ini.

Adaptasi sebentar posisi riding, karena sedikit berbeda dengan tunggangan saia sehari-hari, Ciput CB150R yang sudah pakai raiser setang. Setang GSX terasa sedikit lebih rendah , tapi kurang lebih sama saja dengan setang CB saat belum pakai raiser. Yang perlu adaptasi lagi, adalah posisi footstep depan. Berasa banget sporty-nya, karena posisinya mundur. Lebih mundur dibanding Ciput malahan, jadi, berefek pada posisi kaki yang ikutan mundur dan membentuk sudut lebih lancip di lutut. Ergonominya, monggo disimak gambar berikut. Catatan, postur saia 183 cm, jadi ya, enteng aja duduk di jok GSX, kaki menapak sempurna malah sisa, hehehe. Kalau posisi setang, kayaknya ditambah raiser/peninggi, pas nih buat saia pribadi. Maklum, badan tinggi, supaya lebih rileks meraih setang, posisi setangnya juga kudu lebih tinggi. Efek TB di atas rata-rata nih :mrgreen:

Paling enak, posisi kaki menjepit tangki agak rapat, karena menurut saia pas banget, lekukan di tangkinya.

Putar gas sedikit, rpm cepat naiknya hingga terputus limiter di 13.000 rpm. Wos..sadis memang klan mesin DOHC 150cc Suzuki ini. Limiternya, tinggi dibanding beberapa kompetitor bermesin sama, 150cc . Tekan tuas kopling, masukkan gigi persneling, ceklik. Ringan saja. Meluncur masuk jalan raya , ke arah masuk kota. Khas mesin DOHC, laiknya si Ciput, memang di rpm rendah terasa smooth , tidak kelewat galak. Mulai terasa keluaran tenaga yang jos gandos sejakย  rpm 5000an keatas.

Handling, ringan untuk dibuat selap-selip. Dengan berat 130 kg dan jarak sumbu roda 1.300 mm , termasuk enteng dan lincah untuk diajak menembus kemacetan lalu lintas. Dengan setang bermodel pipa, bukan setang jepit, posisi riding nggak kelewat membungkuk demi meraih setang. Posisi lengan saat tangan menggenggam setang juga santai, sedikit menekuk rileks.

Suspensi, tidak seperti bayangan saia saat awal mengenal GSX-S 150 ini. Saia membayangkan, suspensi yang rada keras, cenderung kaku, karena gen sporty dari saudara kembar tak identiknya, Suzuki GSX-R 150. Ternyata, nggak masbro. Suspensi teleskopik depan, mengayun nyaman ternyata, empuk melibas gundukan atau lubang. Saat iseng dimainkan hingga mentok, tak ditemui suara aneh apapun. Demikian pula monoshock belakang, empuk meski karakternya memang rada kaku, khas motorsport. Empuk mantap kala meredam, sementara ayunan baliknya setelah menekan, agak kaku, alias lambat memantul. Kalau bahasa wong-wong pinter, rebound.

Hari berikutnya, bertepatan dengan jadwal lembur, yang mengharuskan saia pulang lebih malam. Pas nih, buat mengetahui bagaimana pancaran sinar headlamp GSX-S yang berisi lampu LED di depan. Saia coba di 2 kondisi berbeda, yaitu di temaram jalanan, yang masih diterangi oleh lampu jalan. Serta kondisi gelap gulita, tanpa ada penerangan lain, selain sorot lampu GSX. Hasilnya?

Mantap, dengan warna putih, mampu menerangi maksimal jalanan didepan. Kala lampu jauh dinyalakan, area yang tersorot lebih lebar dan tinggi. Itu karena kedua lampu LED di atas-bawah headlamp menyala semua. Untuk lampu dekat, yang menyala adalah LED bagian atas, sedangkan lampu jauh/passing/dim, ditambah dengan LED bagian bawah juga menyala.

Panel informatif dashboard dengan backlight berwarna putih, nyaman juga di mata. Nggak silau ternyata. Dan, saia menemukan, eh, lebih tepatnya baru tahu, ada indikator sebagai warning kalau engine kill sedang diaktifkan. Itu lho, tombol pemati mesin di switch kanan. Saat posisi engine kill aktif, kelistrikan tidak semua mati/off. Yang mati adalah sistem starter dan pompa BBM. Bunyi ‘ngiing’ dari dalam tangki langsung senyap. Ada tampilan warning berupa tulisan ‘chec’ pada panel dashboard. Mungkin lengkapnya sih ‘check’, karena area digit yang terbatas jadi sedikit terpotong. Kalau tulisan ini muncul, berarti silakan cek posisi switch engine kill. Sepele memang, tapi bisa jadi ribet sendiri gara-gara lupa, eeh, nggak bisa menyalakan mesin motor.

Bosan jalan aspal, saia giring GSX ke pinggiran Malang. Masuk daerah pedesaan, lewati hutan dan bukit. Kayak ninja Hattori nih, hehehehe. Coba jalan alternatif ke sebuah lokasi wisata tersembunyi, bukan terselubung lho. Jalannya lumayan, kombinasi tanjakan dan tikungan yang didominasi jalan berbatu serta berlumpur. Kontur tanah berbukit yang di beberapa bagian longsor diguyur hujan, jadi pas deh. Ban aspal IRC Exato, sedikit kewalahan menahan licinnya tanah liat basah di jalanan. Masih tertolong dengan tipikal naked Suzuki ini yang mudah diarahkan dan dikendalikan. Gak terbayang nih, kalau setang jepit ala sport , pasti butuh tenaga ekstra untuk mengendalikan motor yang berasa geal-geol selip kena lumpur liat.

Akhirnya sampai juga si GSX di ketinggian diatas 1.000 dpl. Cuaca mendung dan berkabut semenjak tengah perjalanan hingga tiba di lokasi, sama sekali bukan penghalang. Diajak ke tempat tinggi, memang gak ada masalah , lha wong diajak naik ke gunung Bromo saat touring ‘Taklukkan Batasan’ kapan hari saja ya enjoy aja kok..

Lanjut gas, eksplorasi mesin…eeh, artikel selanjutnya deh :mrgreen: Semoga berguna

Advertisements

14 comments on “Impresi Harian Suzuki GSX-S 150 (2) , Tes Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s