Kesimpulan akhir, riding harian Honda CBR250RR

Pagi masbro…

Artikel ini merupakan penutup hasil tes harian saia, saat menggunakan All New Honda CBR250RR 2016. Yah, meskipun durasi waktu yang sangat sempit (baca:mepet) , saia berusaha maksimal ekplorasi motor ini.

Secara tampilan, garang dan agresif, kesan racing looknya dapet banget. Apalagi, yang kelir gelap , lebih sangar. Paduan dengan sokbreker depan tipe USD berkelir emas, pas dengan body berlekuk racing, lancip dan nungging. Ditambah knalpot yang bermoncong ganda, 2 silincer, jelas pasti menarik perhatian.

lancipcbrPerforma mesin dan imbasnya. Dengan tenaga yang sementara ini, terbesar dibanding kompetitornya yaitu Kawasaki Ninja dan Yamaha R25. Dari hasil dyno disini, mesin 2 silinder berkapasitas 249,7 cc DOHC ,  tenaga di roda belakang terbaca 31 HP lebih.  Tenaga untuk motor dipakai harian, sudah sangat lebih dari cukup menurut saia pribadi. Ganas dan bertenaga IMHO. Tapi, dengan kompresi 11,5 , tentunya butuh asupan BBM beroktan tinggi. Imbasnya, produksi panas jelas lebih. Meski sudah didinginkan dengan radiator berukuran cukup besar dan extra fan, panas mesin memang masih berasa menerpa kaki. Apalagi, saat motor terjebak kemacetan, wow, berasa masbro panas mesinnya. Didorong tiupan angin dari extra fan, meski terlapisi celana jeans tebal, hawa panas mesin seakan menyebar ke sisi kanan-kiri celah mesin dan fairing. Jadi, sangat tidak direkomendasikan, nunggang motor dengan celana pendek.. Efek hawa panas mesin ini, berkurang kala motor sudah melaju. Oh iya, dari pengamatan saia pribadi, extra fan radiator sudah menyala saat indikator temperatur di level 3 bar. Belum ada keterangan tambahan nih, pada temperatur berapa sebenarnya kipas radiator mulai bekerja.

panas-cbrPosisi riding, perlu adaptasi lebih. Kalau yang biasa nunggang motorsport berfairing, mungkin nggak terlalu berpengaruh, cepat adaptasinya. Tapi, kalau yang dari motor tipe lain, contohnya saia pengguna model naked CB150R, perlu sedikit waktu tambahan untuk mendapatkan posisi ideal. Yah, beda rider, pasti beda posisi yang nyaman, tergantung kebiasaan, kenyamanan dan postur tubuh. Kebetulan, postur saia 183/80, jadi tidak ada masalah dengan ketinggian jok CBR250RR. Masih napak sempurna ke tanah. Riding posisi merunduk, untuk durasi waktu lama dan diselingi kemacetan, lumayan rasa pegalnya. Tapi, sedikit tereduksi kalau ketemu posisi ideal. Yang jelas, jangan sampai distribusi beban tertumpu pada telapak tangan. Saia pribadi, ketemu posisi riding yang nyaman memang rada membungkuk, dengan siku sedikit ditekuk.

cbr9okeBoncenger, posisinya memang lebih tinggi dari rider. Layaknya motorsport tulen, jok pasti terpisah alias model split seat. Kalau istilah kawan-kawan, jok berundak, jok boncenger lebih tinggi posisinya. Alhasil, trik naik ke boncengan, kaki kiri ya kudu bertumpu di footstep boncenger kiri, lalu, huppp…naik dan duduk deh.

Fitur TBW (throttle by wire) dan ditambah adanya 3 mode riding yang bisa diubah sesuka hati, merupakan nilai tambah. tbwcbrCukup menekan tombol, meskipun dalam posisi berkendara alias motor jalan, sudah bisa memilih mode keluaran tenaga mesin. Mau smooth, ada comfort. Kalau default, mode pada CBR250RR terpasang pada posisi tengah-tengah, Sport. Hanya, untuk trek dalam kota, yang cenderung stop & go, pilihan Comfort dan Sport kurang pas. Ini menurut saia pribadi lho ya…Malah lebih enak mode Sport ++ , karena mesin lebih responsif tarikannya IMHO

switch3Suspensi, paduan upside down didepan dan monoshock Showa di belakang, terasa rada kaku meskipun nyaman. Melindas lubang pun, masih nyaman tanpa adanya bunyi aneh-aneh. Monoshock, masih bisa distel kekerasannya, dengan kunci khusus yang tersedia di toolkit. Tipikal sport, memang rada keras untuk menguber kestabilan.

monosokcbrHeadlamp, dengan LED sebagai lampu utama, ternyata terang juga. Awalnya, saia rada ragu, karena pengalaman di Vario 110FI punya nyonya, LED depan kurang terang deh sinarnya menurut saia. Punya CBR250RR, meski sama warna putih, karena watt yang lebih besar CMIIW, jadi sinar yang jatuh ke area depan cukup tebal dan terang. Mantap kala jalan malam, sayang, nggak ketemu situasi hujan dan berkabut sih, apakah sinar LED putih mampu tembus kabut.

lampucbrOh iya, ada pertanyaan dari pembaca tentang adanya karat di beberapa bagian. Di unit yang saia coba ini, tidak ditemukan noda seperti itu. Yang saia temukan ada pada tuas rem belakang, kan bahannya besi berlubang gitu. Pada lubangnya, ada semacam noda mirip karat. Mirip sisa genangan air yang lama ngendon begitu. Lainnya, nggak ada. Mungkin, akan lebih baik kalo desain tuas remnya utuh, tidak berongga macam ini.

karatcbrTerakhir, konsumsi BBM. Banyak yang bilang, motor 250cc, ngapain ngukur konsumsi BBM? Nggak perlu lah, kuat beli motor premium, masa masih khawatir dengan pemakaian BBM? Hmm, kalo pendapat saia sih, tetap perlu lah. Awalnya, ingin pakai metode full to full, tapi begitu lirik panel dasbor, lha kan ada pengukur konsumsi BBM rata-rata? Akhirnya pakai itu saja deh 😆 Dengan gaya riding bebas, ketemu angka 22, 8 km/l. Gimana?

bbm-rata2Demikian, penutup rangkaian artikel tes harian, alias daily use Honda CBR250RR. Mohon maaf bila dirasa masih kurang komplit. Sebelumnya, saia sampaikan terima kasih atas perkenan PT MPM Jatim dan MPM Malang, yang telah menyediakan unit kendaraan untuk dicoba selama beberapa hari. Semoga berguna

Advertisements

17 comments on “Kesimpulan akhir, riding harian Honda CBR250RR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s