Impresi Harian Suzuki GSX-S 150 (4) : Kesimpulan

Pagi masbro dan mbaksis. Artikel ini merupakan penutup dari 3 artikel sebelumnya, tentang impresi harian Suzuki GSX-S 150, unit testride dari Suzuki SMG Singosari-Malang. Kuda besi naked berkelir merah ini saia gunakan kurang lebih satu mingguan, dengan berbagai trayek, eh, rute yang saia jajal. Harian buat kerja, terjebak macet, hujan-panas, semi offroad, hingga paling pol saia ajakin naik ke ketinggian diatas 1.000 dpl ke sebuah lokasi di pinggiran Malang.

Selama nunggang ini GSX, berbagai pengalaman saia dapatkan. Yang jelas dan utama, sosok nih motor memang tergolong eye catching alias menarik perhatian. Beberapa kali saia disapa pengendara lain saat sama-sama diam di kemacetan dan lampu merah, sekedar menanyakan, “itu motor Suzuki baru ya??” Penasaran rupanya..

Desain bodi uniknya, memang butuh waktu untuk memahami dan selanjutnya, rasa itu perlahan akan muncul di benak. Yak, rasa bahwa gagah dan asyik nih motor. Kalau hanya melihat sepintas lalu saja, rasanya kurang deh. Asyiknya, dengan mesin injeksi DOHC 150cc berperforma ajib, si mesin terbilang halus, sangat halus malahan untuk kelas motor laki/sport 150 cc. Masih tersamarkan sih dengan suara knalpot 2 lubang dengan silincer  gede rada ngebas, tidak kelewat senyap. Getaran mesin, teredam dengan baik, meskipun dibejek terus menerus di putaran rpm tinggi.

Keluaran mesin ganas di putaran tinggi, kalem di rpm bawah. Khasnya mesin overbore, Suzuki GSX-S ini. Sejak rpm 5000an, terus meningkat keatas, nafasnya panjang. Nyuuss…apalagi kalau sudah hafal karakternya, nyus deh. Tenaga mesin khas, perlu putaran tinggi untuk merasakan tenaga maksimalnya. Dari hasil dyno , karakter tenaga GSX terus meningkat sejak rpm menengah hingga hampir batas limiter 12 ribu lebih. Gak ada gejala drop kecuali terputus limiter. Gileee bener mesin ini..bertenaga tapi halus, pake banget halusnya untuk ukuran motor laki, eh, sport.

Panel dashboard komplit, dengan bentuk dan fitur mirip Satria F150FI. Bentuk kotak mengingatkan pada bentuk gadget, dengan beragam fitur komplit. Termasuk indikator yang jarang ditemukan pada motor sekelasnya seperti interval service, penggantian oli, shiflight hingga pengukuran konsumsi BBM rata-rata.

Konsumsi BBM Suzuki GSX-S 150 ini, kalau saia bilang termasuk irit. Pengukuran pribadi saia, capai lebih dari 40 kilometer dengan seliter BBM Pertamax 92. Teknologi injeksi yang dibenamkan Suzuki pada motor GSX series ini , yaitu dual spray injector terbukti efektif. Partikel bahan bakar yang disemprotkan lebih halus dan dan fokus ke ruang bakar. Walhasil, tenaga yang dihasilkan dari pembakaran bisa maksimal sementara di sisi lain, konsumsi bahan bakar bisa lebih efisien (baca:hemat).

Headlamp yang berisi lampu LED dengan hasil sorotan warna putih, mampu membantu menambah jarak pandang rider. Karena posisi headlamp yang merunduk, jatuh fokusnya ke jalan tebal. Enak nih buat jalan malam, termasuk saat mainkan passing lamp. Sudah menganut AHO, begitu mesin menyala, lampu depan ikutan menyala. Mesin mati, lampu depan juga mati, menyisakan lampu senja kala kunci kontak posisi ON.

Posisi riding nyaman, tidak kelewat nunduk karena aplikasi setang yang masih model pipa dengan dimensi standar. Kalau buat saia pribadi, pas-nya ditambah raiser tegaksupaya lebih tinggi lagi. Pas dengan postur saia, hehehe. Oh iya, ada tambahan penyangga bagian belakang punggung rider, yaitu bonus sandaran tulang ekor dari bagian depan jok belakang/boncenger. Memang, nggak kelihatan banget sih barang ini. Pas kala rider sedikit mundur, sehingga area tulang ekor bisa bersandar pada bagian ini.

Posisi footstep depan Suzuki GSX-S 150 yang lebih mundur, perlu membiasakan dulu. Asli, karena kebiasaan nunggang CB150R, posisi footstepnya terasa sporty banget. Enaknya lagi, ada pilihan ungkit atau injak, tergantung kebiasaan rider. Kalo injak ke belakang, walah, makin berasa sporty-nya karena posisi tuas persneling injaknya berada di belakang. Kaki kudu bergerak ke belakang kalau mau menginjak.

Efek tuas persneling yang panjang, antara bagian depan dan belakang. Iseng saia ukur, panjang tuasnya mencapai 30 cm.

Saia sempat kesulitan kala hendak menggunakan standar samping. Karena ternyata, posisi standar samping GSX-S ini berhimpitan dengan tuas persneling sehingga susah diakses. Ini antara lain akibat posisi footstep depan yang mundur posisinya. Jadi, pengendara kudu nengok ke bawah dulu, memastikan letak tonjolan standar samping supaya kaki bisa menjangkau. Mungkin, ada baiknya, tambahan semacam pengait/besi di standar samping supaya bisa lebih mudah dijangkau kaki.

Jok boncenger, betul kata rekan2 yang sudah jajal…mungil. Meski busa lumayan tebal  posisi yang jauh lebih tinggi, bikin boncenger pegal untuk jarak menengah apalagi jauh. Saya coba sendiri, jarak 20 km aja lumayan pegal juga dibonceng, plus bokong panas. Yah, resiko motorsport sih. Tapi, kalau boncenger dimensinya agak mungil, kayaknya bisa nyaman tuh, apalagi kalo mepet dengan rider pengendara. Diajak jalan jauh hayukk, miring-miring juga oke.

Apa lagi ya? Kayaknya, sudah semua deh, kesimpulan selama semingguan nunggang Suzuki GSX-S 150 ini. Sebelumnya, saia sampaikan terima kasih pada Suzuki SMG, yang berkenan salah satu unit motornya saia gunakan secara harian.

Semoga berguna yak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s