Di tipe motor yang beredar di indonesia, selain matik tentunya, bila dicemati, pada bagian tuas persneling ada 2 macam bentuknya. Pertama, ada yang hanya punya ujung 1 alias bagian depan saja. Rider hanya menggunakan ujung kaki untuk menginjak dan mengungkit/mencungkil bila menaikkan/menurunkan persneling. Biasanya dipakai motor sport alias batangan, kayak Honda Tiger, Kawasaki Ninja dkk.

Kedua, punya ujung 2, depan belakang. Ini biasanya dipakai di motor bebek. Jadi rider tidak perlu Continue reading
Yamaha Scorpio Duoshock??

Entah apa yang ada di benak pemilik Yamaha Scorpio lansiran 2006 ini(kira-kira, liat dari plat nopol ). Maaf bila fotonya gak jelas, dari henpon soalnya 😆
Motor yang aslinya selangkah lebih maju, yaitu memakai monosok alias 1 sokbreker belakang, dirubah jadi “jadul” Continue reading
Klakson…oh klakson…
Klakson.
Apa sih sebenarnya fungsinya??

Dari wikipedia : “Klakson adalah trompet elektromekanik atau sebuah alat yang membuat pendengarnya waspada. Biasanya klakson digunakan pada kereta, mobil dan kapal untuk mengkomunikasikan sesuatu, dimana biasanya pada negara maju,digunakan untuk memperingati pengendara yang kurang tertib atau jika pengendara lain diprediksi akan menyebabkan kecelakaan.Sedangkan di negara berkembang, klakson memberi tahu pendengarnya bahwa ada kendaraan yang datang,mengingatkan akan kemungkinan bahaya yang terjadi,ingin mendahului,atau menyatakan perasaan emosional”
http://id.wikipedia.org/wiki/Klakson
Dongkol banget kalo ngalami,lagi kejebak macet lampu merah, kendaraan di belakang kita, entah R2 atau R4, “sibuk” nglaksonin kita. Dipikir budeg kali kita ya??? Kayak pagi ini, Continue reading
Yamaha matik retro injeksi sudah pasti di 2012??
Mengutip berita salah satu surat kabar nasional hari ini, Sabtu 3 Desember 2011 tentang pernyataan General Manager Promotion, Community & Motorsport Division YMKI, Eko Prabowo : ” Sekitar April (2012) nanti kami akan merilis produk baru. motor automatic. Desainnya retro.”
wadow… Yamaha Fino-kah??? Dari ‘desas-desus yang beberapa waktu lalu santer, memang ‘tercium’ gelagat YMKI akan melepas matik retro, yang kemungkinan Fino.

Nah, pernyataan pak Eko ini diperkuat lagi oleh pak Akihiro Fujikura, general Manager 1st Motorcycle Development Divison, kalau pihak Yamaha akan mulai mengaplikasikan Fuel Injection ke setiap model yang mereka tawarkan mulai tahun depan.
Wadow lagi!!! Apa mungkin Fino injeksi yang dirilis ya??? Atau varian baru, bergenre retro yang mengaplikasi sistem injeksi??
Hanya mereka yang tahu, jadi kita tunggu saja ya…
(sumber JP 3 Desember 2011, gambar : google)
Penghitung waktu di Traffic Light malah bahaya?

Traffic Light, biasa dipanggil mesra TL, sekarang sudah bagus-bagus dan canggih. Sudah pake lampu LED menggantikan bohlam lampu, bahkan dilengkapi pula dengan counter alias penghitung waktu.
Counter ini ada 2 jenis,yaitu penghitung mundur waktu untuk lampu hijau ke lampu merah dan counter untuk lampu merah ke lampu hijau.
Nah, kalo dari kacamata saia nih, lebih pas dan aman-nya counter difungsikan hanya untuk menghitung mundur lampu merah ke lampu hijau saja.

Kenapa aman? Karena, bila terlihat counter mundur lampu hijau ke lampu merah, rider, biasanya terpacu untuk sesegera mungkin melintasi persimpangan dimana TL terpasang, agar tidak terjebak lagi kena lampu merah. Begitu saat lampu hijau, terlihat angka di counter semakin mengecil, mendekati nol dan akan berpindah ke lampu merah, rider biasanya malah akan secepatnya melajukan kendaraannya, takut kena lampu merah lagi. Kalo dua kali atau lebih kena merah, kan makin tua di jalan, hehehehe…

Kembali ke keamanan, karena tergesa-gesa, biar nutut-i (halah, bahasa opo iki), rider kurang memperhatikan keadaan sekitar, termasuk pengendara lain. Akibatnya, malah bisa terjadi kecelakaan.
Agak lain ceritanya, bila yang terpasang counter mundur saat lampu merah ke lampu hijau. Lebih aman, karena posisi semua kendaraan saat itu berhenti, jadi hanya bersiap-siap akan jalan, tinggal menunggu lampu hijau saja.
Yah, sekedar opini pribadi saia saja, mungkin ada yang berpendapat lain, monggo…Soal penerapan??? Wah, itu bagiannya teman-teman Dinas Perhubungan deh…
Touring versus Sport???
Pas ngeliat, iklan AHM di salahsatu surat kabar nasional, ada deretan motor-motor Honda yang berteknologi injeksi. Ada Spacy Helm-in FI, SUpra X 125 FI, Helm-in FI, PCX 125, trus CBR 150 R dan CBR 250 R.

Nah, pas liat duo CBR ini, keliatan jelas beda posisi sang rider. Meski postur badan memang beda, terlihat di CBR 150, rider lebih racy posisinya, alias sedikit lebih nunduk. Posisi setang sepertinya mirip-mirip CMIIW (belom pernah nyoba sih ) , tapi posisi kaki beda. Rider CBR 150 kakinya terlihat agak mundur dan sedikit naik, sementara rider CBR 250,terlihat lebih santai, posisi kaki lebih ke depan / maju.

Itu beda yang jelas terlihat antara karakter motor touring CBR 250 R dan motor sport CBR 150 R tentang posisi riding. Belum soal karakter mesin, rake, setting suspensi dan lain-lain.
Cuma, pas saia lihat, kayaknya nih, bentuk fairing, meski super mirip, malah lebih rendah si CBR 250 yah, ketimbang CBR 150? Yang kelihatan di gambar, desain windshield CBR 250 lebih landai dari CBR 150, yang notabene, malah lebih aerodinamis CMIIW..

Monggo, yang lebih paham share ilmu dong buat yang awam kayak saia. Mas Aziz…(tak rasani ben muncul 😆 )
Aksesoris modifikasi motor yang bisa bikin boros BBM
Modifikasi, pasang variasi alias part pendongkrak power mesin, sering dilakukan bikers pada motor kesayangan. Alasannya, selain menambah tenaga mesin sehingga notabene lebih kencang, juga atas nama keren di tampilan. Konsekuensi logisnya, pasti lebih boros BBM. Apa aja aksesoris yang bisa bikin boros bengsin??

Continue reading
Honda Supra X 125 Helm-In cingkrang (kakinya kekecilan)??
Setelah dilaunching Oktober 2011 kemarin, unit HSX 125 dengan bagasi super luas ini mulai saia jumpai wira-wiri di jalanan kota Malang. Bodi terkesan memang agak “gemuk”, tentu saja karena penambahan ruang bagasi yang diperluas. Secara garis besar, memang masih stylish, meruncing ke belakang, meski versi ini lampu belakangnya sudah berbeda bentuk dengan HSX 125 non helm in. Beda bodi terutama di area tengah, tenpat sang bagasi berada. Sayangnya, kalo menurut saia nih, pas dilihat dari belakang, kok kayak cingkrang ya???

Maksudnya, kaki-kaki kayak kekecilan, gak seimbang dengan bodi yang sudah melar. Sebab, velg dan ban, masih sama persis dengan HSX 125 lawas. Yakni ukuran velg 1.40 ban 70/90-17 untuk depan dan velg 1.60 ban 80/90-17 untuk belakang.

Mungkin, untuk mendongkrak tampilan, supaya minimal lebih seimbang antara bodi dan kaki-kaki, pemilik HSX 125 HI bisa memodifikasi ukuran velg dan belakang. Nah, karena gak ada yang jual variasi velg racing tapak lebar eceran (maksudnya dijual terpisah velg depan – belakang), ya terpaksa sepaket dong.. Untuk ukuran, bisa dipakai acuan lebar tapak Yamaha New Jupiter MX yaitu profil ban 100/70-17.

Lebih bagusnya lagi,supaya ban tidak mengembung ala donat, velg juga jangan pakai standar-nya laias ganti lebih lebar. Sudah lumayan lebar tuh. Jadi tampak gagah en kekar. Lebar tapak ban yang ke nempel aspal juga otomatis bertambah, sehingga meningkatkan daya cengkeram. Cuman efek negatifnya, selain makan biaya (ganti velg+ban), juga biasanya konsumsi BBM sedikit lebih boros, karena memutar roda yang notabene lebih berat darioada standar-nya.
Monggo, ada yang mau bikin HSX 125 HelmIn-nya lebih gagah??
gambar dari oto, mas Haji TMC sama pak erte
Oleh-oleh dari Kediri
Jum’at malam lembur, pas ngebut bareng teman-teman menyelesaikan rencana kerja buat 2012,sam Wiro kontak, katanya lagi kopdar sama pak erte di Batu. Dengan sangat menyesal, saia gak bisa ikut. Lha kerjaan sik seabreg-abreg…sepurane yo sam, saia gak tau iso lek diajak kopdar 😦 Sabtu pagi buta, mata sebenarnya sik rada ngantuk, sudah meluncur ke Kota Kediri, ada acara di rumah mbah di Mojoroto. Sebelumnya, sempat kontak cak Tarom, sang touringrider. Kepinginnya, mau ketemuan alias mampir ke rumah manten anyar ini. Mumpung ada waktu luang. Sayang, cak Tarom pagi-sore masih di Ayabarus. Pas saia kontak, posisi terakhir masih di Mojokerto. Ya wis, gak papa-lah, belum waktunya ketemuan kali Jadi jam 9 malem saya cabut balik Malang bareng keluarga, cak Tarom dalam perjalanan masuk Kediri. Lain waktu yo sam, ketemuan, hehehehe….sepurane sing uakeh..
Mengisi waktu, saia mampir-mampir ke beberapa teman lama di Kediri. Pas lewat tengah kota, ndilalah, ada konvoi Mio Lady, beberapa Yamaha Mio gaul, dijoki rider cewek cakep nan modis Continue reading
Apa sih enaknya turing dikawal???

Sering banget kita lihat, rombongan bikers turing atawa konvoi dengan dikawal patwal, entah dari klub sendiri, ataupun voorijder kepolisian.
Biasanya, yang paling sering dikawal emang klub moge sama HD. Saia sedikit maklum, karena dengan dimensi motor yang bongsor, juga mesin dan tenaga gede, mungkin dirasa akan menimbulkan kesulitan bagi rider-nya bila menemui kemacetan. Makanya dipakai pembuka jalan yang sekaligus memecah kemacetan agar rombongan ini bisa melaju lebih cepat dan mendapat prioritas jalan. Cuma, seyogyanya atau semalangnya , mbok ya menghargai pemakai jalan lain ya pak? Sudah pake patwal dengan sirene meraung-raung, kok ya masih ada anggota rombongan yang mainin klakson dan sirene, plus bleyer-bleyer gas sehingga raungan dari knalpot mesin gede, yang sudah pasti suaranya keras en kencang, membuat pengguna jalan lain “terintimidasi”, jadi takut sehingga terburu-buru minggir.

Balik ke topik deh, kok malah melenceng.
Sebenarnya, tujuan turing itu apa?? Kalo saia sendiri sih, meski sekarang sudah gak pernah turing jauh kayak pas jaman muda dulu, selain bisa tahu daerah lain yang belum pernah dikunjungi, sebenarnya yang paling asyik itu waktu di perjalanannya. Bukan tujuannya. Kalo sudah sampe lokasi tujuan sih, biasa aja. Paling muter-muter cari tahu, sudah.
Nah, justru di perjalanan yang lebih mengesankan, bisa nemu hal-hal menarik, entah pemandangan alam (tentunya berhenti sebentar dong), ketemu motor+rider yang unik, dan utamanya, bisa meng-klopkan diri dengan tunggangan. Jadi lebih bisa “akrab” dengan motor, menghadapi berbagai macam tipe jalan, hambatan dan cuaca, dan seringnya, pas nemu jalan lengang, bisa mengeksplorasi kemampuan motor dengan tetap hati-hati en jaga keselamatan alias safety riding dong.
Nah, kalo dikawal, otomatis jalannya kan kenceng, mak wuzzz….supaya cepet nyampe tujuan. Kayaknya, gak ada nikmat dan seninya turing deh, wong lagi konsentrasi menggeber motor menuruti patwal yang juga kencang. Boro-boro bisa berhenti sebentar menikmati pemandangan, bisa rapi sesuai formasi aja kayaknya susah, wong akhirnya pada balapan, geber-geberan motor masing-masing.
Kalo masbro sekalian gimana???
(gambar dari gugel)