Ngalas bareng pak kades, pada ganas nih betot Yamaha WR155 (part 2)

Pagi masbro..

Melanjutkan cerita kemarin, ngalas bareng Yamaha WR155R. Etape kedua, setelah checkpoint di Alas Mbahgor, adalah menuju checkpoint 2 di Wisata Paralayang Sidoluhur. Yang ini, masuk daerah kecamatan Lawang. Weh, sudah lintas perbatasan nih, Singosari – Malang

Lepas dari Alas Mbahgor, trek lumpur masih mendominasi. Apalagi, jalur bekas truk tebu, yang meski cukup lebar, namun terendam air dan lumpur yang kalau diterjang, bisa sedalam hingga mesin motor. Lumayan serem kan?

Makanya, saia pribadi, karena masih pemula banget, cari

aman saja. Jaga kecepatan nggak kenceng saat masuk kubangan, namun tetap panteng gas dan bersiap menahan motor karena pasti nih, goyang-goyang tenggelam dalam lumpur. Sengaja pilih barisan rada belakang, sekiranya saia gubrak, alias jatuh, nggak mengganggu yang lain, syukur-syukur gak diterjang dari belakang. Dan syukurnya, aman nih melaju dalam lumpur meski ya kudu ekstra konsentrasi memilih trail/bekas jalur supaya nggak kehilangan daya cengkeram.

Lagi-lagi, kombinasi roda standar WR155 dan handling yang aduhai, menyelamatkan saia dari jebakan kubangan yang sukses menelan korban. Salah satu peserta di depan terpeleset, dan bangkit dengan tertawa riang. Ah, ngetrail tanpa jatuh gak seru katanya 😆

Rombongan berlanjut, dan memasuki daerah yang lumayan keras. Gantian, dominasi trek keras berbatu dan berdebu, menguji WR155. Memacu nih motor jangkung dengan kecepatan antara 40-50 kpj, rasanya sudah kayak terbang melindas batuan dan tanah. Suspensinya, tangguh meredam guncangan jalan yang ajegile , bukan keriting lagi. Dan lagi-lagi, para kades ini memang lihai. Beberapa, bahkan saling kejar. Sumpah, kayaknya sudah biasa main motor trabas di lintasan offroad nih, para bapak. Saia stay kalem, dan rela menghirup debu dari motor-motor yang dipacu kencang.

Usai trek berbatu habis, kembali masuk hutan, dan taraaa…tanjakan curam dimulai. Menaiki perbukitan, diantara rerumputan tinggi, jalur menanjak yang sempit terhampar panjang, jauh kedepan (dan keatas). Jalkur sempit hanya untuk 1 motor ini, selain menanjak dengan beberapa titik saia perkirakan sudutnya mencapai 60 derajat lebih, juga meliuk-liuk, alias berbelok-belok. Trek sebagian tanah, sebagian ada pasangan paving. Sambil jaga kestabilan, saia panteng di gigi 2 sambil jaga rpm. Melaju kencang takut kehilangan kendali, laju lambat juga takut gak kuat nanjak. Amannya, ya panteng gas itu tadi. Dan disinilah saia paham,pesan mas RC saat briefing. Kalau misal terasa gak kuat dan hendak jatuh/roboh, silakan arahkan ke kanan. Ternyata, sisi kiri adalah tebing tinggi :mrgreen: Maklum, kami mendaki punggung bukit

Makin menambah adrenalin, perasaan tegang ini. Sambil tetap ucap doa, hehehehe. Akhirnya, sampai juga di atas bukit, yang pemandangannya ke bawah, duh Gusti, apikkk tenan. Apalagi, sesaat setelah sampai puncak, bergeser sedikit ke lokasi Paralayang, ajegile….kenapa saia belum pernah kesini ya? Bagus banget pemandangan dari atas Wisata Paralayang Sidoluhur ini

Rombongan beristirahat, sekitar 20 menitan. Sambil menyeruput kopi dan teh panas di rumah penduduk, sekalian melonjorkan kaki, menstabilkan nafas dan menenangkan pikiran setelah tanjakan yang buat saia lumayan ngeri. Setelah rehat, kembali bersiap, kali ini menuruni bukit dan trabas lagi di area pepohonan. Kali ini, nggak lagi ketemu jurang atau lumpur, karena sebagian besar jalan tanah keras, beberapa malah melintasi perkampungan. Tetap jaga kecepatan, jangan sampailah ngebut dan dicap arogan nih..

Dan nggak berapa lama, destinasi terakhir kami sudah dekat. Demikian info dari mas RC, dan benar saja, memasuki jalan aspal sebentar, belok, sampai di Kopi Pitung. Lokasinya, adalah di desa Kemiri, kecamatan Jabung. Perjalanan melintasi jalur mulus ini, sempat saia gunakan jajal mesin WR155, yang ternyata, bertenaga meski pagai gir belakang besar. Gigi 4, rileks saja dipacu 60 kpj. Bahkan, si bikersoak, bisa tuh jajal hingga 80 kpj di posisi sama, persneling 4. Memang ajib mesin 155 VVA ini, tanjakan oke, jalan lurus juga hajar

Titik tujuan ini adalah sebuah warung kopi, yang juga menyediakan makanan khas pedesaan. Punya pemandangan yang cukup bagus, karena terketak di ketinggian. Ada juga beberapa gubuk/saung yang bisa dipergunakan ngopi atau makan bersama kawan, sambil menikmati kesunyian alam yang juga sangat sejuk.

Di tempat inilah kami berpisah dengan rombongan pak kepala desa, yang setelah istirahat , makan dan foto-foto, kembali ke asal masing-masing. Rasa puas saia rasakan, eksplorasi Yamaha WR155 saat ini, yang dalam 1 hari saja, menempuh medan offroad mulai basah-kering dengan kisaran angka 34 kilometer jelajah.

Semoga di waktu mendatang, berkesempatan eksplorasi lagi

Semoga berguna

3 comments on “Ngalas bareng pak kades, pada ganas nih betot Yamaha WR155 (part 2)

  1. Pingback: Ngalas bareng pak kades, pada ganas nih betot Yamaha WR155 (part 2) | Jatimotoblog

  2. Jadi penasaran pakai WR. Pernah pakai CRF imho sudah lumayan enak buat trabasan walaupun spek standar. Mestinya WR lebih bertenaga ya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s