Inikah rasanya nunggang harian All New Honda CBR250RR ? Hmm .. (1)

Pagi masbro…

Langsung saja ya…Kali ini, saia kupas tentang All New Honda CBR250RR, yang diperbolehkan untuk saia jajal tunggangi secara harian . Oh iya, motor berkelir hitam doff dengan striping merah ini, alias nama resminya Matt Gunpowder Black Metallic ini merupakan properti dari PT MPM Kayutangan, yang berlokasi di Jl Basuki Rahmat Malang. Odometer saat unit ini saia colek-colek di dealer, masih 18 kilometer, hehehehe…

cbrredBeres urusan serah terima dan segala macam, segera saia pamitan pada ‘pemilik’ yaitu Branch Manager PT MPM Kayutangan, Pak Yudi. Siang itu, saia ingin sekedar membiasakan diri dengan motorsport ini.

cbr1Secara tampak mata, posisi riding terlihat sangat racy, model balap banget. Setang berada dibawah segitiga/tripleT alias underyoke. Yang jelas banget adalah tangki, yang dalam pikiran saia, moge banget modelnya. Besar, gede dan menjulang keatas. Ingatan langsung kembali saat testride di Surabaya, Desember tahun lalu.

Sambil menyiapkan helm dan memakai sarung tangan, saia duduk di jok. Hmm, untuk ukuran postur saia, 183/79 ini, nggak ada masalah sama sekali. Duduk nyaman di jok, kaki pun menapak tanah sempurna. Iya lah, tinggi badan saia memang sedikit berlebih untuk ukuran wong Jowo, hehehehe..

cbr2Duduk nyaman, saat hendak meraih setang, kekhawatiran saia terbukti. Posisi racy, memang mengharuskan pengendara alias rider, membungkuk. Setang rendah, dikombinasi dengan posisi footstep yang mundur. Saia, kurang terbiasa dengan posisi riding sporty, karena setang CB150R masih bersahabat untuk posisi tegak. Itu saja saia tambah dengan raiser setang supaya posisi setang ciput bisa sedikit lebih tinggi. Alhasil, posisi riding harian saia termasuk tegak. Begitu ketemu motor model sport kayak gini, memang, mau gak mau harus mengubah posisi dan gaya riding. Saia bungkukkan badan condong kedepan, untuk bisa menggenggam handel setang CBR250 ini. Sip, mulai mencari-cari posisi yang pas dan enak, ya meskipun gak sampai 100%, sudah ketemu mendekati ideal. Nanti-lah, sambil jalan kan kaki napak ke footstep, jadi bisa lebih maksimal mencari posisi riding yang pas.

footstepSiap, putar  kunci kontak ke ON. Indikator dasbor menyala, sapaan CBR nongol di layar sebelum berganti dengan tampilan spidometer khas yang racy, yaitu dominasi oleh indikator putaran mesin/tachometer berbentuk bar digital. Persis diatas RPM meter, ada shiftlight, alias lampu penunjuk waktunya shifting gear/naikkan gigi persneling. Disamping kiri, ada indikator temperatur mesin dan BBM dan lampu engine check. Sisi kanan, ada lampu indikator netral, dan indikator oli. Di tengah, muncul tampilan penunjuk kecepatan digital berukuran besar. Disampingnya, indikator mode ridingnya nongol. Yaitu Comfort, Sport dan Sport ++. Persis dibawah indikator mode, adalah panel posisi gigi perseneling/gear. Dibawah penunjuk kecepatan, ada beragam indikator lagi. Mulai jam digital, odometer, 2 jenis tripmeter, dan konsumsi BBM rata-rata. Komplit tenan…

spidocbrSetelah kunci ON, semua indikator menyala, beberapa saat kemudian lampu engine check mati. Siap menyalakan mesin. Panel tombol starter, memang menyatu dengan switch engine kill. Awalnya kagok juga sih, ndeso memang saia 😆 Untuk start, cukup tekan tombol  start di panel kanan kebawah. Brummmm..suara mesin 2 silinder yang idle rpm-nya di kisaran 1200 ini terdengar halus, meski terasa tetap rada keras karena kapasitas mesin yang besar, dibanding tunggangan saia ciput, CB150R yang cuma sebiji silindernya 😉 Oh iya, untuk matikan mesin dari panel, cukup tekan switch starter ke atas. Mesin langsung mati, dan indikator engine check di dasbor menyala. Ini merupakan salah satu fitur yang terlihat sepele. Lampu engine check menyala, mengingatkan pengendara bahwa saat itu, engine kill sedang aktif dan mesin tidak akan dapat dinyalakan. Bagus nih remindernya, soalnya, di beberapa motor yang pernah saia pakai, yang punya engine kill tentunya, tidak ada indikator apapun saat motor mati. Jadi, kalo pas lupa, lhoo..gak bisa menyalakan mesin, ternyata switch engine kill sedang berfungsi , hehehehe… Ini mah ridernya (baca : saia) yang pelupa :mrgreen:

cbr4Start, saia langsung keluar dari dealer, menuju tempat kerja. Maklum, lembur masbro…ada kerjaan yang mesti diselesaikan dulu. Buka dan mainkan gas, wiiirrrr…. di kisaran RPM 5000an keatas, ada bunyi khas yang sangat mengintimidasi. Gak hanya sekedar desing 2 silinder, tapi ada beda yang berasa seperti lengkingan mesin yang didahului suara mirip ngorok saat throttle gas dipuntir. Penasaran bunyinya? Niih…

Selesai kerjaan, saia ingin merasakan, gimana sih nunggang CBR250RR di tengah kemacetan. Apalagi, Malang sekarang juga lagi demen macet 👿  Kebetulan juga, setelah coba-coba posisi riding ideal, akhirnya ketemu juga. Rada merunduk, tapi nggak terlalu tiarap ala balap, dengan siku rada menekuk rileks. Yang utama, jangan sampai beban bertumpu seluruhnya ke area tangan. Bakalan pegal deh, dijamin. Kira-kira, gambaran riding untuk saia pribadi kayak gini nih.

cbr9okeSaia giring motor ke area kampus-kampus, melewati jalan dua jalur yang lumayan padat, maklum, kawasan mahasiswa ngekos dan beraktifitas.  Ternyata, penampilan fisik body yang gahar, sukses mengalihkan saia. Handling, meski berfairing dan berdimensi besar, tetap nyaman dan nurut. Wah, berasa nyetir motor cc kecil nih…gak ada cerita berat, manuver terbatas dan sebagainya. Jadi, saat masbro nunggang diatasnya, aura naik motor besar memang terasa dari bentuk dan dimensi, tapi soal pengendalian, jempol deh. Motor nurut sama kemauan rider, selap-selip juga ringan saja. Merupakan pembuktian filosofi “Total Control”

Meliuk di kemacetan, juga tidak menemukan kendala berarti. Yah, hanya menyesuaikan saja, karena ada body berfairing yang lebih lebar. Penyesuaian terbesar adalah radius putar yang terbatas, khas motor berfairing. Jadi, kalau mau putar balik, kudu ancang-ancang dulu dan liat lebar jalan..kalau nggak muat, ya bisa mundur dulu.

cbrliukOh iya, setelah ketemu posisi riding yang nyaman, (ingat, beda pengendara pasti beda posisi nyamannya) , ada 1 hal lagi. Sebisa mungkin, kalau nggak terpaksa nih, hindari membawa barang, entah tas punggung atau tas selempang. Tas selempang, bisa mempengaruhi handling, karena berada di sisi/samping pengendara. Lha kalau tas punggung, justru akan menambah beban ke rider. Karena posisi condong ke depan, beban di belakang pasti juga akan bertumpu ke pengendara. Saia rasakan sendiri sih, bawa tas punggung berisi laptop dan kamera, lumayan membebani punggung. Iyalah, naik motorsport kok ya bawa ransel 😉

Oke, sekian dulu artikel awal impresi berkendara harian dengan All New Honda CBR250RR. Semoga berguna..

 

Advertisements

12 comments on “Inikah rasanya nunggang harian All New Honda CBR250RR ? Hmm .. (1)

  1. Bro Mario Devan jg dapet unit test harian. Katanya konsumsi bbm 1:15 karena keasyikan geber2. Sampean gimana, masbro? Trus ada yg ngeluh sudah muncul karat di bbrp bagian motor cbr250rr nya.
    Satu lagi, bbrp pemilik dan tester bilang panas mesinnya agak berlebih ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s