Akhirnya, bleki Honda New CB150R ini pakai box

Pagi masbro..

Bleki, Honda New CB150R Black Stallion punya saia, memang sangat minimalis, hampir tidak tersentuh modifikasi berat. Beda dengan kakaknya si OCB yang sempat saia ubah mulai roda, knalpot, filter dan kelistrikannya. Yah, banyak sebab sih , salah satunya kembali ke utilitas motor ini yang saia pakai kendaraan harian buat bekerja.

Si ciput OCB, memang akhirnya pindah tangan ke adik ipar, meski juga jarang dipakai. Pas mau saia serahkan, kondisi si ciput saia restorasi ke standart sebagian. Seperti roda yang  balik ke velg CW bawaan ditambah penggantian ban FDR Sport XR 100/70 depan dan 130/80 belakang. Knalpot yang nggak saia copot karena diminta pemilik barunya, katanya, kelewat halus knalpot standartnya. Lagipula,  karena terbiasa bawa Pulsar bore-up 300cc lebih, tenaga si ciput dirasa lelet kalau pakai knalpot standart.  Air dari langit yang mulai sering turun di kawasan Malang dan sekitarnya, membuat saia terpikir untuk pasang tas tabung wadah jas hujan. Awalnya ingin pasang engine guard yang terpasang di OCB, si ciput. Besi ini, terpasang di baut tralis serta baut dudukan mesin bawah. Selain sebagai pelindung mesin, memang saia fungsikan sebagai tempat mengikat tas tabung wadah jas hujan.  Maklum, motor laki kan nggak ada bagasi. Eh, ada sih, cuma minimalis di bawah jok sebagai tempat toolkit saja.

Saat si bleki NCB hitam doff ini datang, saia kurang ngeh kalo ada perbedaan signifikan pada dudukan mesin. Meski sudah tahu kalau dudukan mesin yang menyambung dengan sasis tralisnya memakai bahan alumunium, sementara OCB masih besi yang jadi satu dengan sasis/rangka. Nah, setelah mencermati, baru ngeh kalo itu alumunium itu dimensinya lebih pendek , sehingga  dudukan mesin berbeda. Di OCB, dudukan mesin lebih kebawah, persis di bawah dinamo starter. Sementara, NCB dudukan mesinnya agak keatas. Nah lho..beda kan ternyata.

Beda ini, walhasil tidak bisa memindah besi engine guard dari OCB ke NCB. Mau bikin lagi, kok rada males ya..Sementara, sempat yang pakai namanya tali bagasi, untuk mengikat jas hujan dan sepatu karet di jok belakang.

Beberapa waktu, kerasa ribet dengan bawaan yang terikat di jok belakang. Susahnya, pas berangkat kan sekalian antar anak sekolah, jadi repot karena ada barang di jok belakang. Kudu bongkar pasang deh. Mumet, akhirnya, pilihan jatuh ke box belakang. Selain lebih luas untuk diisi barang seperti jas hujan dan sepatu karet, braketnya nancep langsung ke buritan. Meski awalnya rada ragu, karena belum pernah riding pake motor yang ada box belakangnya, alias rear/top box

Berhubung anggaran terbatas, coba mencari alternatif box second , bahasa halusnya barang bekas 😆 Cari yang masih sangat layak pakai lah, karena yang berlabel baru, di Malang sudah tembus 1 jutaan untuk merk Givi.  Nguping cari info di kawan-kawan komunitas, yang biasanya pemakai box. Biasanya tuh, kan banyak yang cepat bosan, jadi box masih bagus mulus, dijual deh tukar model dan ganti gaya. Penantian beberapa lama berbuah hasil kala seorang rekan menawarkan box-nya yang masih hitungan bulan terpasang di motor. Katanya sih lagi butuh uang, hehehe. Melesat ke TKP rumah yang bersangkutan, ketemu dengan sosok Honda NCB merah dengan box bermerk Kappa terpasang di buritan. Setelah ngobrol-ngobrol , berpindahlah itu box Kappa K39 beserta braket ke tangan saia. Kok ya kebetulan banget, rejeki saia barangkali, motornya sama, alhasil braket pun langsung saia pasang plek en plung di si bleki. Cukup bermodal kunci ring/pas 10 aja, gampang banget deh.

Box Kappa K39 ini, memang secara fisik sama plek dengan Givi E20 yang lumayan legendaris. Selain dimensi pas dan isi lumayan, ada julukan khusus buat generasi box ini. Yaitu bisa terbang 😆 😆 😆 Iya, karena masih menganut 1 dudukan pengunci ke base plate alias monolock, kekuatan penguncinya kadang melemah, Dibawa ngebut apalagi melibas jalan nggak rata, bisa terbang lepas ini box, hahahahaha. Makanya, kadang kawan-kawan pengguna menambahkan tali pengikat.

Nggak apa-apa deh, saia nggak kepikiran soal resiko ‘terbangnya’ ini box. Toh, dipakai komuter aja, meski jalan luar kota juga nggak ngebut kok, penting #cariaman :mrgreen: Beres pindah braket ke bleki, tinggal proses adaptasi saat berkendara dengan motor yang ada box belakangnya. Pikiran awal, pasti pengaruh ke handling nih. Maklum, orang awam, nggak pernah jajal pakai box belakang sama sekali. Kalau bawa motor box roda 3 malah pernah, hehehehe. Ternyata, kalau kondisi box kosong, nggak ada beda sama sekali :mrgreen: Diajak manuver juga tetap sama rasanya, tetap lincah seperti biasa. Paling hanya harus nambah jarak kalau mau nyalip kendaraan lain, kuatir kelewat mepet dengan area belakang si bleki.

Kalau pas saia isi kebutuhan hujan, 1 set jas hujan berikut sepatu karet All bikes, nyaris gak ada beda. Iyalah, kan hanya seberapa beratnya sih, paling-paling 1-2 kg paling pol. Akhirnya, bisa aman dan nyaman nih melibas hujan dengan peralatan tempur di box belakang.

Sebaliknya, kalau jas hujan dan sepatu karet terpakai menerabas hujan, giliran sepatu kerja yang mengisi ruang box.

Enak juga ternyata ya, pakai bagasi tambahan. Yah, meskipun sisi minusnya tetap ada, yaitu boncenger rada susah naik ke jok belakang, terhalang box. Bahkan, meski dilepas box-nya, tersisa braket saja, masih rada kesulitan istri saia, hehehehe. Kalau sudah duduk sih, nggak ada kesulitan, malah bisa buat bersandar, hehehehe. Malah sekarang, bisa buat angkut dagangan juga nih, lumayan efektif hasil pemasangan top box pada si bleki NCB150R ini.

Semoga berguna

 

Advertisements

10 comments on “Akhirnya, bleki Honda New CB150R ini pakai box

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s