Siang-siang, mau makan di kantor, kok pas menu-nya gak cocok. Ya wis, akhirnya sekalian beli memory card, nyari makan siang. Sebenarnya, niat ngincipi kuliner ini sudah agak lama, pas liat liputannya di salah satu surat kabar lokal.
Selat Solo ala Nana, begitulah titel warung satu ini. Berlokasi di Jl Bendungan Sutami, sederetan dengan toko variasi dan aksesori motor “Champion”.
Melihat menu, yang jelas ditojolkan adalah Selat Solo. Ada yang belum tahu? Sama Gampangnya, ini adalah hidangan sejenis bistik daging sapi, dengan pelengkap sayuran kukus, telur, acar dan disiram kuah saos atau kuah segar.
Ada 3 jenis unggulan disini, yaitu Selat daging iga, Selat bola daging dan Selat galantin. Pembedanya adalah cara pengolahan dagingnya dan juga bahannya. Kalo pelengkap dan kuahnya sih sama saja.
Saia akhirnya melabuhkan pilihan di galantin, karena yang terkenal di Solo sana ya itu. Gak berapa lama, seporsi Selat galantin kuah saos, ditambah nasi dan es teh tersaji di meja. Hemm, tampilannya sangat segar dan menggugah selera. Sepiring Selat galantin, terdiri dari sepotong daging olahan(sepertinya digoreng CMIIW), sayuran kukus yaitu wortel-buncis, potongan acar timun, tomat dan kentang goreng, dan telur rebus berbentuk bunga, terendam dalam kuah saos beralas daun selada. Asli, bikin tambah lapar. Trus, dah ada kentang+daging, kenapa pesan nasi? Perut saia ini, kalo belum kemasukan nasi, serasa belum makan masbro, alias gak nendang dan kurang kenyang(Jawa : ora tuso π )

Akhirnya, selesai ambil gambar, langsung sikat beserta nasi. Hemm..maknyuss..asli enak. Sayuran kukusnya gak terlalu matang, jadi masih ada tekstur renyah khas sayur, tapi juga gak mentah. Trus bintangnya, yaitu dagingnya, mmmm…mirip sama olahan daging yang buat isian burger itu lho masbro..gurih, meski ada rasa tepungnya. Sementara kuah saosnya, mirip kuah capcay dan sejenisnya, hanya rasa asam-manis lebih dominan, tanpa rasa pedas sama sekali. Mangkanya, disediakan sambal-garam di meja, bila ada yang merasa kurang cocok.
Gak pake lama, seporsi Selat galantin + nasi + es teh manis dah bersih, berpindah ke tangki pribadi saia (baca:perut). Tahu, berapa total yang harus dibayar untuk makanan ini? IDR 13.000 saja….gak kurang gak lebih. Nah, murah-meriah, kenyang pula, eh, enak juga.
Bisa nih jadi alternatif pilihan makan bila bosan makanan yang itu-itu saja. Monggo, yang mau mencoba kuliner ini, kata yang punya sih, satu-satunya di Malang π
Wuiih….makannya keliatannya seger banget..!!
http://www.lexyleksono.com/2015/09/14/tempat-penangkaran-buaya-di-tanjung-pasir/
LikeLike
seger juga enak kang lexy π
LikeLike
wah… kapan kapan cobak aaah…
LikeLike
ndang kang, ben ra mie ayam ae..eh, sing sumbersari durung sempat aku
LikeLike
tapi ndak bisa berenang di arus keencang kang….
takutnya ndak nyampek seberang…
*gagalpaham π
LikeLike
saia juga gagal paham π
gak malah kencang di utara to??
kie mbahas opo tow jane??
LikeLike
Aku kapan ya ksana
http://macantua.com/2015/09/15/motogp-di-sentul-lets-dream/
LikeLike
ditunggu kang, hayuk deh
LikeLike