Supeltas versus ‘polisi cepek’

Ya, siapa sih yang nggak tahu istilah ini? Sukarelawan pengatur lalu lintas. Jangan disamakan dengan ‘polisi cepek’ lho ya. Mereka ini beda. Selain mempunyai atribut khusus, antara lain kaos lengan panjang dengan identitas supeltas dan kepolisian wilayah tertentu, yang membedakan adalah mereka ini mempunyai keterampilan khusus di bidang pengaturan lalu lintas. Lho, kok bisa? Lha iya, supeltas mendapatkan ilmu dan pengetahuan pengaturan lalu lintas dari pihak kepolisian setempat, entah itu Polsek ataupun Polres. Jadi, keberadaan mereka memang diakui dan legal. Tujuannya jelas, untuk membantu pihak kepolisian, dalam pengaturan lalu lintas, dimana, kadang di titik-titik tertentu, tidak tertangani oleh Polantas, karena berbagai hal, misalnya keterbatasan personil dan akses ke lokasi.

logo supeltas solo

logo supeltas solo

Saia merasakan sendiri, betapa beda cara penanganan oleh supeltas dan polisi cepek. Contoh gampang, di perempatan Stadion Gajayana-Jl. Semeru. Kebetulan, di titik ini, tidak ada supeltas. Sebelumnya, pengaturan kendaraan yang akan lurus, belok kanan-kiri di perempatan, hanya berdasar toleransi antar pengguna jalan. Namun, beberapa bulan terakhir, ada beberapa anak muda dengan tongkrongan seadanya, “membantu” pengaturan lalu lintas disini. Hasilnya??

Jpeg

P_20151026_133849[1]Malah semrawut!! Kok bisa ya?? Padahal, hanya berjarak sekitar 200 meter ke timur, ada perempatan Jl Semeru, yang lebih padat arus lalu lintasnya, dengan 1 supeltas, malah lancar, tidak ada kemacetan alias penumpukan kendaraan.
Sebabnya? karena si ‘polisi cepek’ ini, selain tidak memiliki keterampilan khusus pengaturan lalin, juga orientasinya pada uang. iya sih, siapa juga yang gak mau dikasi uang?? Tapi, mereka ini parah. Demi recehan seribu-dua ribuan, langsung saja mereka mendahuluan pemilik kendaraan yang memberikan uang ini. Gak mau tahu, meski jalur berlawanan sedang padat, kendaraan yang pemiliknya memberikan uang itu diprioritaskan. Nyebrang deh di perempatan, sementara jalur lain berjubel 👿

P_20151003_152538[1]Sementara, kalau yang diatur supeltas, oke lah, ada pengendara yang kadang memberikan uang tips, seribu dua ribu. Tapi, mereka memprioritaskan kelancaran jalan. Dimana ada jalur yang padat, ya itu yang  didahulukan. Terserah, mau dikasih uang atau nggak, yang penting lancar dulu. Itu yang mereka prioritaskan, sesuai pelatihan yang diberikan pihak kepolisian setempat. soal rejeki, sudah ada yang mengatur. Buktinya, supeltas yang saia temui dan sempat ngobrol kala istirahat, dirinya bisa mengantongi IDR 25.000-40.000 sehari, dari hasil tips pengendara yang melintas. Beliau mengatakan, nggak pernah namanya meminta uang. Kalau diberi, ya maturnuwun katanya. maaf, beliau tidak mau saia ambil gambarnya, takut dan malu katanya ;-). Padahal, ya cuma untuk blog ecek-ecek ini, mana bisa lah kayak blogger-blogger senior tingkat wahid :mrgreen:
Ya, karena berbagai faktor, muncul profesi seperti ini. Saia tidak menyudutkan ‘polisi cepek’ alias liar yang mungkin sangat banyak bertebaran di jalanan kota Malang, juga kota lain. Tapi sebaiknya sih, pihak kepolisian setempat lebih aktif merangkul mereka, dengan memberikan pelatihan dan pemahaman pengelolaan lalu lintas. Minimal, pengaturan. Dilihat masyarakat, supeltas ber atribut resmi enak dipandang, tidak memaksa minta uang, lalu lintas pun jadi lebih lancar, pekerjaan polisi pun lebih ringan. Setuju???

#update, sekarang sudah ada supeltas di titik itu, lumayan lancar 🙂

Advertisements

4 comments on “Supeltas versus ‘polisi cepek’

  1. Pingback: Cekcok dengan supeltas, miris | sekedar coretan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s